Dukungan Singkong Salim Kancil Saat Pilkades Pada Hariyono Dibalas Darah

Pembunuhan Salim Kancil

Dukungan Singkong Salim Kancil Saat Pilkades Pada Hariyono Dibalas Darah

Bahtiar Rivai - detikNews
Selasa, 06 Okt 2015 13:36 WIB
Dukungan Singkong Salim Kancil Saat Pilkades Pada Hariyono Dibalas Darah
Hariyono (Foto: Bahtiar Rifai)
Jakarta - Pada saat Pilkades tahun 2006 lalu, Hariyono adalah seorang calon kades yang cekak. Dia mencari dukungan dari berbagai pihak, termasuk Salim Kancil. Namun dukungan dulu, dibalasnya dengan darah.

Awalnya, Hariyono bukanlah orang terpandang di Desa Selok. Ia hanyalah warga biasa yang berbisnis jual-beli sepeda motor yang kreditnya macet. Ia bertarung dalam pemilihan kepala desa dengan dana cekak. Banyak sokongan diberikan, termasuk oleh Salim alias Kancil. Salim, yang merupakan petani, membujuk para petani lain agar mendukung Hariyono.

"Saya dan Pak Salim mati-matian menolong Hariyono. Nyari singkong untuk orang-orang (pendukung Hariyono)," kata kerabat Salim, Mulyadi, dalam fokus majalah detik edisi 201.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akhirnya Hariyono berhasil memimpin Selok. Ia terpilih menjadi kepala desa pada 2006. Dua tahun menjabat, Hariyono mulai kreatif mencari uang. Karena Selok merupakan desa tambang pasir, Hariyono pun memungut kutipan terhadap setiap truk pengangkut pasir.
Rumah Hariyono

Seiring waktu, kekayaannya terus bertambah. Kini, Hariyono punya itu paling mewah di Desa Selok Awar-Awar. Bangunannya besar, dan tidak cuma satu, tapi dua unit. Salah satu bangunannya masih baru. Letaknya hanya sekitar 20 meter di belakang balai desa. Pemiliknya tidak lain adalah Hariyono, sang kepala desa, yang tentu saja kaya raya.

Selok Awar-Awar merupakan satu dari banyak desa di Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, yang menjadi lokasi penambangan pasir muntahan Gunung Semeru. Berdasarkan data tahun 2010, desa itu berpenduduk 8.000 jiwa. Namun tidak seluruh penduduk Selok Awar-Awar menjadi penambang. Mereka sebagian menggantungkan hidup pada hasil pertanian.

Lokasi kematian Salim Kancil


Salim Kancil dan Hariyono kemudian berhadapan berselang 9 tahun kemudian. Salim di sisi orang yang menentang tambang ilegal, sementara Hariyono 'pelaksana' proyek tersebut. Salim akhirnya dibunuh secara keji oleh anak buah Hariyono yang disebut Tim 12.

Saat ini, Hariyono terancam 20 tahun penjara hingga seumur hidup karena dijerat dengan pasal pembunuhan dan penambangan ilegal. Namun lewat pengacaranya, Heru Laksono, Hariyono membantah sebagai dalang pembunuhan dan menyuruh preman tim 12 untuk membunuh Salim Kancil.

"Mereka jalan sendiri-sendiri," kata Heru kepada majalah detikcom.

***

Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 201, 5 Oktober 2015). Edisi ini mengupas tuntas "Pasir Berdarah Lumajang". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional "Coblos 'Setuju' atau 'Tidak'", Internasional "Rusia Datang, Assad pun Tenang", Ekonomi "Oleh-oleh Lawatan ke Arab", Gaya Hidup "Kulot, Old Fashion tapi Keren", rubrik Seni Hiburan dan review Film "Magic Mike XXL", serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!! (mad/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads