Kopda Suprat tergabung dalam Satgas Pam (Pengamanan) perbatasan RI-Papua Nugini Yonif 400/Raider. Dari jajaran Kodam IV/Diponegoro, satgas tersebut datang dari markasnya di Semarang dan bertugas selama 10 bulan.
"Tugas pokok kami menjaga wilayah darat perbatasan. Kami di Pos Wembi, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Kami juga melakukan tugas tambahan yaitu serbuan teritorial seperti perintah Panglima TNI," ujar Suprat saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/10/2015).
![]() |
Dipimpin Komandan Satgas Letkol Inf H Bambang Wahyudi, Suprat bersama teman-temannya melakukan serbuan teritorial berupa komunikasi sosial dengan masyarakat yang berada di sekitaran pos. Seperti patroli kesehatan dan anjang sana ke rumah-rumah warga.
"Anjang sana itu kunjungan ke rumah warga untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan juga untuk mengenal wilayah serta sosok atau pemimpin daerah, termasuk pemimpin gerakan separatis yang ada di wilayah kami," kata prajurit yang sudah bergabung dengan Yonif 400/R selama 12 tahun itu.
"Kami mendapatkan jaring komunikasi dengan masyarakat sehingga dapat memperlancar dan menunjang pelaksanaan tugas kami. Kami memperoleh banyak informasi dan rasa simpati dari masyarakat," sambungnya.
Suatu hari ketika Suprat sedang melakukan Anjang Sana ke rumah salah seorang warga, ia melihat pemandangan yang cukup menyentuh hati. Yakni seorang anak yang sedang belajar mengaji seorang diri.
"Saat itu di Kampung Pyawi saya anjang sana ke rumah ketua RW, bapak Syarifudin. Beliau adalah pendatang dari Makassar. Di sela perbincangan, kami melihat dan mendengar anak beliay sedang membaca Alquran dengan terbata-bata," tutur Suprat.
Pria asli Magelang itu pun merasa terenyuh. Teringat akan putranya yang masih berusia 5 tahun di rumah, Suprat tergerak ingin mengajar anak Syarifudin yang masih duduk di bangku kelas 2 SD itu.
"Namanya Mirawati. Tergerak hati saya dan saya berniat mengajari. Karena saya yakin dia bisa hanya kurang mendapat bimbingan. Di sana ada kelompok pendatang dari Makassar dan Jawa, jumlahnya ada 7 KK. Mereka memang minoritas di daerah tersebut karena mayoritas di sana kristen atau katolik," ucapnya.
"Anak ini juga awalnya ragu-ragu mungkin takut atau ragu karena saya tentara. Lalu saya komunikasikan kepada komandan pos Kapten Inf Manashe Lomo, apakah boleh mengajar di pos, beliau berkenan, sangat antusias dan mendukung sekali," imbuh Suprat.
![]() |
Ternyata benar, setelah mengajar Mirawati di Pos tempat satgas bertugas, kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan baik. Bahkan Mirawati kemudian mengajak teman-temannya untuk ikut belajar mengaji. Sehingga ada 7 orang murid Suprat yakni 3 orang anak perempuan kelas 2 SD, dan 4 anak laki-laki di mana 2 masih kelas 3 SD, dan 2 lainnya sudah kelas 6 SD.
"Untuk pembelajaran awal anak-anak tersebut saya ajarkan melalui metode belajar dengan Iqro. Saya dibantu oleh Praka Arief karena murid sudah cukup banyak," cerita Suprat.
Umat muslim di daerah tersebut memang minoritas dan tidak ada guru mengaji untuk anak seperti di wilayah lainnya di Indonesia. Orangtua anak-anak ini kebanyakan adalah petani sawit yang sehari-harinya sibuk berada di kebun sehingga kurang memiliki waktu untuk mengajari anak-anaknya mengaji. "Mungkin juga kurang terpikirkan," tambah Suprat.
Suprat tak pernah meminta untuk dibayar untuk apa yang ia lakukan. Di sela-sela bertugas mengabdi kepada negara dengan menjaga perbatasan, bapak satu anak ini ikhlas meluangkan waktunya untuk membatu warga dengan kemampuan lebih yang ia miliki. Warga membalas kebaikan Suprat dengan cara lain.
"Dalam keseharian kami terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Bahkan karena akrabnya kami, sering masyarakat terutama orangtua dari anak-anak yang mengaji di pos kami memberikan masakan, sayur-sayuran hasil bumi yang ada. Itu bisa menunjang kebutuhan makan kami di pos," terang Suprat.
Bukan hanya itu, orangtua murid Suprat juga berinisiatif membangun musala yang ada di Pos Wembi. Pasalnya musala sebelumnya hanya beratapkan rumbi dengan alas dari kayu.
"Saya terkejut, itu setelah 4 bulan kami membantu mengajar. Akhirnya musala dibuat jadi bagus, pakai keramik. Itu sumbangan dari warga. Dan yang membuat saya terharu, bukan hanya dari warga muslim saja. Warga pribumi yang bergama katolik dan kristen juga membantu dalam pembangunan musala di pos," Suprat mengisahkan.
Kini 7 anak didik Suprat sudah khatam iqra dan saat ini mulai belajar membaca Alquran. Senang dan bangga dirasakan oleh Suprat karenanya. Namun di sisi lain Suprat mengaku bersedih. Mengapa? Ikuti kisah Suprat selanjutnya. (elz/ega)













































