Pantauan detikcom, puluhan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater, berkumpul dan berorasi. Berbekal alat pengeras suara, mahasiswa protes kampusnya dinonaktifkan Kemenristek Dikti.
"Sebagai mahasiswa mana pun pasti akan merasa beda kampus dinonaktifkan, saya merasa dirugikan baik faktor waktu biaya," ujar Zacky, mahasiswa FISIP Ibnu Chaldun, berorasi di kantor Kopertis Wilayah III, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sangat berdampak terhadap psikologi mahasiswa bahkan isu non aktif membuat dilema (terhadap) mahasiswa untuk tidak masuk kuliah. Ketika informasi ini beredar pihak kampus yang kami tanya menjamin tidak ada masalah justrus menuding akar masalah terjadi pada Dikti dan Kopertis," paparnya.
Hal yang sama juga dikatakan Bhony, mahasiswa jurusan hukum semester 5. Dia mengaku kecewa dan mempertanyakan alasan pengumuman penonaktifan kampusnya.
"Kami kecewa, oleh karena itu alasan kami kesini untuk mempertanyakan hal itu juga," ujarnya.
(Baca juga: Dinonaktifkan Kemenristek Dikti, Ini Tanggapan Universitas Ibnu Chaldun)
Menurut Bhony, pagi tadi pihak kampusnya sudah melakukan audiensi dengan Dirjen Dikti. Rencananya akan ada pembahasan lanjutan soal keputusan Kemenristek Dikti.
"Harapan kami, Dikti dan Kopertis melakukan klarifikasi karena ini sudah mencemarkan nama baik," tegas Bhony.
(Baca juga: Ini Daftar 243 Kampus yang Dinonaktifkan Kemenristek Dikti)
Demonstrasi berjalan damai. Sejumlah perwakilan mahasiswa diterima pihak Kopertis III. Hingga kini audiensi pihak kopertis dengan mahasiswa dan kampus masih berlangsung.
(edo/fdn)










































