Ruang kelas bergambar kartun dan dinding yang dicat warna-warni menyambut kami. Di samping pintu gerbang warna hijau ada spanduk bertuliskan "Yayasan Athfal Amri Aksani". Seseorang pria cukup umur yang ternyata H. Riyono menyambut kami di depan rumah. Kami lalu bersalaman dan mengobrol santai.
Peltu Riyono Saat mengajar Ngaji |
Pisang goreng dan teh manis hangat yang disuguhkan si empunya rumah membuat suasana sore itu begitu hangat. Rumah dan pekarangan seluas 1.500 meter itu sengaja dibeli Riyono untuk kegiatan pesantren dan majelis taklim warga sekitar.
Pesantren atau majelis taklim memang biasa ada di lingkungan masyarakat, namun pesantren milik H Riyono ini agak sedikit berbeda. Bukan ajaran atau pengajarnya yang beda, namun yang punya pesantren ini adalah anggota TNI AL. Tentara yang punya kegiatan keagamaan tak banyak dan hanya ada beberapa. Salah satunya Riyono.
Riyono merupakan anggota TNI AL Korps Marinir yang berdinas di Kwitang, Jakarta Pusat. Dengan pangkat Bintara Tinggi Pembantu Letnan 1 (Peltu), Riyono biasa mengurus pembinaan mental rohani Islam (Bintal Rohis) para tentara di sana.
Peltu Riyono saat mengajar ngaji (Rachman/detikfoto) |
Pria kelahiran Brebes, 27 Mei 1970 ini mulai merintis pesantrennya sejak Desember 2010. Awalnya dia dan istrinya hidup ngontrak berpindah-pindah dari Cilandak lalu ke Jonggol dan ke Serab Depok. Setelah punya rumah di Serab, rumah itu dijualnya dan pindah ke Cilodong untuk membangun pesantren.
Pesantren miliknya memang tidak sebesar pesantren lain. Dia menyebutnya sebagai pesantren karena memang khusus untuk belajar, mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama.
"Ini disebut pesantren bisa, padepokan bisa, majelis taklim bisa pokoknya tempat belajarlah. Alhamdulillah saya beli tanah 1.500 meter lebih. Saya jadiin majelis taklim biar bermanfaat, kalau tanah lebar nggak ada manfaatnya kan mubazir," kata Riyono saat berbincang dengan detikcom, Rabu (30/9/2015).
Foto: Rachman/detikcom |
Pesantren ini berada di bawah yayasan Athfal Amri Akhsani, yang tak lain adalah nama anak pertama dari Riyono. Sasarannya adalah warga sekitar yang ingin belajar mengaji.
Awalnya pesantren ini menampung santri yang ingin menginap. Namun seiring berjalannya waktu, pesantren ini hanya menggelar pengajian setiap sore dan malam hari.
"Dulu ada yang nginap, cuma mereka nggak kuat. Soalnya harus bangun subuh, ikutin peraturan saya, sudah pesantren, tentara lagi itu kenceng banget itu. Disiplinnya, bangun tidurnya, akhirnya banyak yang nggak kuat, ya udah yang penting mereka mau ngaji saja alhamdulillah. Kalau keras-keras nanti mereka kabur," kisah Riyono sambil tertawa.
Di rumahnya Riyono membuka TK Islam Ilman Nafiah, nama itu diambil dari nama anak keduanya. Murid yang ikut sebagian besar warga sekitar dan biayanya juga murah hanya Rp 70 ribu sebulan.
"TKnya resmi sudah terdaftar di Kementerian Agama. Kalau anak yatim gratis, semua kita kasih, seragam dan uang bulanan kita santunin pertiga bulan," ucapnya.
Saat ini murid yang belajar di tempat Riyono berjumlah 54 orang, terdiri dari TK, SD hingga SMP. Khusus yang TK kegiatan dilakukan dua kali yakni pagi dan sore hari.
"Pagi itu untuk umum baca tulis latin, tata krama, akidah akhlak. Kalau sore khusus agama, doa-doa pendek, belajar salat, baca quran," jelas pria yang mengenyam pendidikan S1 di Ilmu Tarbiyah di Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Al-Ayyubi ini.
Riyono mengaku tak kesulitan membagi tugasnya sebagai anggota Marinir dan mengurus pesantrennya. Meski harus mengorbankan waktu, tenaga dan uang, namun Riyono senang bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk warga sekitar.
"Dinas mah tinggal dinas, berangkat tinggal berangkat. Saya berprinsip kepada hadis nabi yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Kira-kira saya hidup bermanfaat nggak buat orang, kalau saya nggak manfaat kayaknya rugi banget. Kebetulan saya punya sedikit ilmu, bisa baca quran, jadi saya ngajarin itu," katanya.
Foto: Rachman/detikcom |
Dia juga biasa menghadapi kesulitan dalam mengembangkan pesantrennya. Apalagi pesantren ini berbasis sosial yang tidak mengharap keuntungan. Sehingga seringkali dia mengalami kesulitan biaya. Namun dengan kayakinan dan usaha semua itu bisa dihadapi.
"Masa-masa sulit itu pasti ada. Misalnya kesulitan ekonomi, tapi terlewatkan asal kita mau usaha yang penting halal. Alhamdulillah ada jalannya," katanya.
Peltu Riyono |
Di rumah yang asri dan berada di atas empang itu Riyono dan istrinya banyak menghabiskan waktu untuk mengurus anak-anak didiknya. Meski tidak selalu mengajar langsung, dia merasa lega bisa memberikan tempat untuk warga sekitar belajar agama. Selain TK ada juga taman untuk anak-anak, ruang mengaji dan dia juga sedang membangun ruangan dua lantai untuk tempat murid-muridnya bermukim nanti.
Halaman 2 dari 1












































Peltu Riyono Saat mengajar Ngaji
Peltu Riyono saat mengajar ngaji (Rachman/detikfoto)
Foto: Rachman/detikcom
Foto: Rachman/detikcom
Peltu Riyono