Pedihnya Mata Terkena Debu Akibat Kebakaran Lahan di Palembang

Pedihnya Mata Terkena Debu Akibat Kebakaran Lahan di Palembang

M Iqbal - detikNews
Minggu, 04 Okt 2015 21:34 WIB
Pedihnya Mata Terkena Debu Akibat Kebakaran Lahan di Palembang
Foto: Suasana kabut asap malam ini di Palembang (Koko/pasangmata.com)
Jakarta - Hidup dengan kondisi udara dan cuaca yang buruk, sudah dialami warga Palembang dan sekitarnya sekitar dua bulan terakhir. Tak hanya karena asap yang pekat akibat kebakaran, tapi juga debu yang sangat pedih di mata.

"Udaranya mengandung debu abu, pedih sekali di mata," ucap seorang warga Palembang Koko Hanafi kepada detikcom, Minggu (4/10/2015) sekitar pukul 21.05 WIB.

Koko menceritakan, kabut asap di Kota Palembang malam ini kondisinya lebih pekat dari siang tadi. Tentu jangan dibayangkan seperti kabut biasa, tapi kabut yang berasal dari sisa-sisa lahan yang dibakar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Magrib tadi ada angin kencang. Biasanya karena angin itu, bara api makin menyala. Jadi malam ini lebih pekat dan pedih di mata. Mobil kalau sudah dicuci sore itu debuan lagi," paparnya.

Koko mengabadikan kondisi kabut asap di Kota Palembang malam ini saat melalui persimpangan Charitas, Ilir Barat, Kota Palembang. Debu akibat kebakaran lahan dan hutan itu berterbangan dan membuat langit Palembang lebih gelap.

Menurut Koko, kondisi ini terjadi hampir tiga bulan terakhir. Geografis Kota Palembang menurutnya, dikelilingi lahan-lahan dan hutan yang saat ini menjadi titik-titik api yang menyebarkan kabut asap dan debu bakaran.

"Debu itu coklat kayak debu tanah. Karena angin kencang jadi tanah di gambut ikut terbang, warna debunya campur cokelat hitam gitu. Pedih di mata. Beberapa orang pakai kacamata berenang. Ada juga masker standar, tapi mana kuat," kata Koko.

Entah sampai kapan kabut ini membuat warga Palembang sulit dan sesak bernafas, juga debu bakarannya yang membuat mata perih melihat. Belum ada yang memastikan kapan akan berakhir.

"Ya gimana lagi," ucap Koko diiringi tawa soal warga yang hidup di kepungan asap.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, hingga hari ini Sumatera Selatan masih memiliki 1.340 titik api. Jumlah itu lebih banyak dibanding daerah lain. Konsentrasi hotspot di Sumsel ini terdapat di perkebunan dan hutan tanaman industri di Kab. Ogan Komering Ilir


(bal/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads