Kata Psikolog Forensik Soal Pembunuhan Bocah yang Ditemukan dalam Kardus

Kata Psikolog Forensik Soal Pembunuhan Bocah yang Ditemukan dalam Kardus

Nur Khafifah - detikNews
Minggu, 04 Okt 2015 08:29 WIB
Kata Psikolog Forensik Soal Pembunuhan Bocah yang Ditemukan dalam Kardus
Foto: Lokasi Pembunuhan Bocah dalam Kardus (Yudhistira Amran Saleh)
Jakarta - Polisi masih memburu pelaku pembunuhan terhadap bocah perempuan yang ditemukan tewas dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat. Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menilai, pelaku bukanlah psikopat.

"Dugaan saya, dia adalah pedofilia situasional," ujar Reza saat berbincang, Minggu (4/10/2015).

Reza menjelaskan, pedofilia situasional sebenarnya memiliki hasrat seks selayaknya orang dewasa. Pada dasarnya ia lebih memilih lawan yang sama-sama dewasa untuk melampiaskan kebutuhan seksnya. Namun karena suatu kondisi seperti dendam atau sakit hati, ia menyalurkannya kepada pihak yang lemah, yang tidak mampu melawan, sehingga keinginannya terpenuhi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pihak lemah itu, tak lain dan tak bukan adalah anak-anak," ujarnya.

Menurut analisa Reza, pelaku bukanlah pria yang memiliki kecenderungan pedofil bawaan. Sebab biasanya para pedofil yang memiliki kecenderungan bawaan akan merencanakan aksinya dengan rapi. Selain itu, biasanya mereka menggunakan cara halus, penuh bujuk rayu dan tanpa kekerasan dalam menghadapi 'mangsanya'.

"Nah dalam kasus ini kan pelaku tidak terlihat seperti itu," kata Reza.

Dengan membungkus jasad korban dalam kardus yang dipenuhi lakban, pelaku terlihat ingin menghilangkan barang bukti. Namun kemungkinan karena panik dan emosi yang tidak terkendali, jasad tersebut justru tercecer atau mungkin sengaja diletakkan di gang sempit yang ramai dilintasi warga.

"Dia bukan orang yang terlatih. Ini bukan psikopat. Karena psikopat biasanya justru orang yang cerdas dan melakukan perencanaan dengan rapi. Sementara ini sangat konvensional," ucapnya.

Sebagai psikolog forensik, Reza mengecam perilaku tersebut. Anak yang seharusnya dilindungi justru dijadikan alat pelampiasan amarah orang dewasa.

"Saya sangat bersedih, saya sangat marah (melihat tingkah pelaku)," tuturnya. (khf/fdn)


Berita Terkait