Sudah kali kedua ini, kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini menggelar 'Banyuwangi Batik Festival' (BBF). Tahun ini, ajang 3 tahunan ini digelar pada 10 Oktober mendatang.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Di Banyuwangi, kami ingin menampilkan batik tidak hanya menjadi penanda, namun sebuah kebanggaan yang berujung pada kesejahteraan para pelaku industri ini," imbuh Anas.
Tak puas dengan ajang lokal, Banyuwangi mencoba mengenalkan batik di kancah nasional melalui Indonesia Fashion Week yang digelar pada bulan Februari lalu. Menggandeng desainer kenamaan, Pricilla Saputro, batik pesisiran Banyuwangi tampil dalam helatan bergengsi di dunia fashion di Jakarta Convention Centre. Ajang ini benar-benar dimanfaatkan sebagai upaya untuk memajukan industri kreatif batik Banyuwangi.
"Ikhtiar kami memajukan industri kreatif batik disambut positif. Para desainer dan pelaku fesyen nasional melibatkan Banyuwangi dalam Indonesia Fashion Week. Hasilnya, saat ini batik Banyuwangi dikenal kolektor batik maupun wisatawan," ujar Bupati Anas.
![]() |
Tak hanya itu, untuk meningkatkan kecintaan batik, Pemkab Banyuwangi mencanangkan 'Desember Berbatik'. Di bulan Desember, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pegawai hotel dan restoran diwajibkan mengenakan batik khas Banyuwangi.
Siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA/ SMK baik negeri maupun swasta juga diwajibkan menggunakan seragam batik khas Banyuwangi dalam beberapa hari kegiatan belajar mengajar dalam seminggu.
"Ini diharapkan bisa mendorong kecintaan masyarakat Banyuwangi dalam menggunakan batik Banyuwangi," pungkasnya. (gik/try)













































