Seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di AS bercerita bagaimana dirinya pernah menjadi korban perampokan bersenjata. Gulardi, nama mahasiswa itu, sedang berjalan kaki menuju tempat menginapnya di kawasan Takoma, Washington DC, saat peristiwa itu terjadi pada tanggal 21 September 2015 lalu. Dia bersama temannya yang juga mahasiswa Indonesia. Mereka berdua berjalan kaki dari stasiun ke tempat tinggal yang hanya berjarak sekitar 12 menit jalan kaki. Kejadiannya sekitar pukul 10.30 malam sehabis hujan.
"Saat melewati perempatan kami diserang oleh empat orang, dan salah satunya menodongkan pistol secara bergantian ke saya dan teman saya. Karena suasana gelap, kami tidak dapat mengenali wajah mereka," tutur Gulardi, Jumat (2/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat kejadian yang terpikir di benak saya adalah bagaimana saya bisa secepatnya keluar dari situasi yang mengancam itu. Bagaimana supaya saya tidak terluka. Baru setelah para perampok itu pergi saya menyadari gawatnya situasi yang baru saja saya lalui. Hampir saja saya kehilangan nyawa satu-satunya," aku Gulardi.
Mereka beruntung karena para perampok itu lantas pergi setelah merampas barang-barang tanpa melukai. Hanya satu jotosan yang disarangkan ke muka teman Gulardi, namun tanpa menimbulkan luka. Gulardi bahkan sempat menyelamatkan HP-nya yang biasa dia pakai. Tanpa buang waktu mereka pun segera menghubungi 911 begitu para perampok pergi. Tak sampai 10 menit kemudian datang polisi dengan tiga mobil secara bergantian. Mereka menanyai Gulardi dan temannya detil kejadian dan ciri-ciri pelaku. Dengan segera mereka pun menyebar tim untuk memburu pelaku.
"Cara kerja mereka sangat profesional. Mereka menanggapi sungguh-sungguh laporan kami. Meski mereka tidak berhasil menangkap pelaku, tapi paling tidak kami jadi merasa aman karena tahu ada pihak berwajib yang menangani," kata Gulardi.
Setelah menghubungi polisi, Gulardi pun lantas menghubungi KBRI. Kebetulan dia kenal dengan beberapa orang di sana. Tak lama kemudian dua orang petugas dari KBRI menyambangi rumah tempat Gulardi menginap. Kedatangan mereka memberikan rasa tenang di tengah rasa shock yang menimpanya akibat pengalaman mencekam yang baru saja dia alami.
Pagi harinya, Gulardi menerima telepon dari polisi yang mengabarkan bahwa tasnya ditemukan di pinggir jalan. Namun sayangnya kamera dan HP cadangan di dalam tas hilang. Meski begitu Gulardi merasa bersyukur karena dokumen-dokumen penting seperti paspor masih ada. Lucunya, buku Dependent Archipelagos in the Law of the Sea yang dia pinjam dari perpustakaan kampus raib.
"Mungkin pelakunya ingin belajar hukum laut," canda Gulardi yang tengah menempuh PhD di University of Virginia ini.
Belajar dari pengalaman pahit itu, Gulardi menyarankan kepada para mahasiswa Indonesia di Amerika untuk selalu waspada dan hati-hati di manapun berada. Pasalnya, bahaya bisa datang dari mana saja tanpa disangka-sangka.
"Usahakan hindari berjalan di tempat-tempat sepi sendirian, dan kalau bisa jalan beramai-ramai. Dan yang paling penting, jangan lupa untuk selalu berdoa," sarannya.
Jika situasi bahaya seperti yang dia alami terjadi, imbuhnya, jangan melawan. Turuti kemauan pelaku, karena bagaimanapun menyelamatkan nyawa lebih penting ketimbang mempertahankan barang. (try/try)











































