Di Kabupaten Bantul terdapat dua sentra kerajinan batik. Wilayah Imogiri lebih dikenal sebagai batik tulis tradisional. Sedangkan di wilayah Dusun Pijenan, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak dikenal usaha batik cap dan batik kombinasi antara batik cap dan tulis.
Di Kabupaten Kulonprogo, daerah yang menjadi sentra kerajinan batik ada di Dusun Sembungan Desa Gulurejo dan Desa Ngentakrejo Lecamatan Lendah. Letak dusun yang menjadi sentra batik di Lendah itu berada tidak jauh dari Sungai Progo atau sekitar 30 km arah barat daya Kota Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom) |
Awal mula desa tersebut menjadi sentra kerajinan batik, ketika para pembatik yang sebagian besar kaum wanita itu memilih kembali ke desa untuk bekerja di rumah. Mereka tetap menjadi pembatik di sela-sela kegiatan mengurus rumah tangga.
Dulu hingga tahun 1990-an pengrajin batik di Yogyakarta berpusat di kawasan Njeron Beteng Kraton Yogyakarta, Prawirotaman, Karangkajen, Mergangsan, Patangpuluhan, Tirtodipuran/Mantrijeron. Ribuan buruh batik baik wanita dan pria dari berbagai pelosok desa bekerja di kawasan tersebut.
Saat industri batik mulai surut, mereka banyak yang kembali ke rumah atau desa. Dengan bekal keahlian saat bekerja pada para juragan batik tersebut, mereka berani membuat batik sendiri. Batik-batik tersebut kemudian disetorkan atau dijual kepada pengusaha batik di kota.
"Awal mula di Desa Gulurejo dan Ngentakrejo, Kecamatan Lendah ada pengrajin batik karena dulunya banyak warga yang merantau, bekerja membatik di juragan-juragan batik di Yogyakarta," ungkap Sugirin, pemilik Batik Sembung kepada detikcom di Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Lendah, Kulonprogo awal pekan ini.
(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom) |
Menurut Sugirin, para wanita bekerja membatik atau nyanthing. Sedangkan yang pria menjadi bekerja sebagai tukang mewarnai kain batik.
"Dengan keahlian yang mereka punyai itu, mereka kemudian berani bekerja membatik sendiri di dusun. Tidak perlu lagi jadi buruh mbatik di kota," katanya.
Pada tahun 2009 kata Sugirin, saat Bupati Kulonoprogo Hasto Wardoyo menggalakkan program Bela-Beli Kulonprogo, yakni untuk menggunakan produk buatan sendiri.
Untuk mengangkat para pembatik tersebut, bupati membuat terobosan dengan menciptakan batik motif Geblek Renteng. Geblek adalah makanan khas Kulonprogo yang terbuat dari ketela yang dibuat bulat-bulat dan rentengan saat digoreng.
Batik cap dengan motif geblek renteng ini, lanjut Sugirin, kemudian dipakai oleh semua siswa sekolah mulai SD, SMP dan para PNS se-Kulonprogo.
"Adanya terobosan itu, usaha pengrajin batik di Sembungan dan sekitarnya jadi terangkat," katanya.
(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom) |
Β
"Untuk batik cap dan kombinasi, waktu pengerjaannya lebih cepat dibanding batik tulis sehingga harga pun lebih murah," katanya.
Dia menambahkan para pengrajin batik di Sembungan juga terus berkreasi mencipta desain atau motif-motif baru sesuai selera pasar.
"Kami juga berkreasi untuk mengembangkan motif-motif batik sesuai selera pasar dan pemesan," pungkas dia.
(bgs/try)












































(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom)
(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom)
(Foto: Bagus Kurniawan/detikcom)