Menag yang tiba menjelang salat Maghrib disambut dengan hangat oleh Syekh Muhammad dan santrinya yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur. Setelah Maghrib, Syekh Muhammad memimpin majelis untuk bertahlil, membaca Surat Yasin, Al Waqiah, dan Al Mulk.
"Sudah saya niatkan wukuf untuk ke sini. Tapi karena kondisi kesehatan baru kali ini bisa hadir," tutur Menag, Selasa (29/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Menurut Menag tempat belajar yang dibuat oleh ayahanda Syekh Muhammad, yakni Syekh Ismail, memberikan banyak manfaat. Banyak kyai di Indonesia belajar banyak dari majelis atau pondok pesantren ini.
Majelis ini telah mengajarkan Islam yang rahmatan lil 'alamin, bukan yang ekstrem, bukan yang saling kafir mengkafirkan. Islam yang ada di Indonesia dipengaruhi oleh banyak guru-guru di Tanah Suci yang salah satunya berada adalah Syekh Muhammad.
"Saya mengikuti secara tidak langsung pikiran beliau itu sedikit banyaknya mempengaruhi Islam di Tanah Air bisa seperti sekarang ini," katanya.
Lewat penterjemah, Syekh Muhammad merasa bahagia kediamannya dihadiri taaamu-tamu istimewa. Bukan sembarang tamu tetapi para haji, para tamu-tamu Allah.
"Barangsiapa menghormati tamu Allah, maka akan dihormati Allah," tuturnya.
Syekh mengatakan majelis ini sudah ada sejak 50 tahun yang lalu Bertepatan dengan kedatangan Menag, mereka sedang memperingati haul ke-22 ayahanda dari Syekh Muhammad.
Dalam kesempatan itu Menag memberi bingkisan berupa sarung khas Indonesia. Sementara syekh memberikan alquran dan kitab ke Menag.
Setelah Isya dan makan malam bersama-sama Menag mohon pamit pada Syekh. Keduanya menyempatkan foto bersama dan berpelukan sebelum menag meninggalkan lokasi rumah Syekh.
![]() |













































