"Kita ingin meninjau pasar mereka, mana kelompok usaha yang merupakan kumpulan ekonomi lemah mereka," kata Ketua Komisi VI Hafisz Tohir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2015).
Hafisz mengungkapkan bahwa pasar-pasar tradisional di negara-negara Eropa bisa diatur sedemikian hingga tak kalah bersaing. Dia membandingkan dengan keberadaan warung di Indonesia yang bersaing dengan minimarket.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
Hafisz belum membeberkan waktu persis kunjungan dan biayanya. Namun, dia memprediksi kunjungan hanya 5 hari dan diikuti oleh 7-10 orang.
Selain meninjau pasar tradisional, Komisi VI juga akan berkunjung ke parlemen Jerman. Para anggota dewan juga ingin berdiskusi dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) versi Jerman.
"Bertemu KPPU sana. Kadin-nya Jerman juga, tentang bagaimana iklim usaha di sana," ucap Hafisz.
"Kita melihat bagaimana proses UU persaingan usaha di Jerman menghadapi globalisasi. Bagaimana mereka mengatasi persaingan usaha ketika berhadapan antar negara," jelasnya terkait alasan pemilihan Jerman sebagai tujuan kunker. (imk/tor)











































