Ahok mengizinkan pembelian makanan dengan KJP di sejumlah merchant yang melayaninya. "Ada beberapa makanan yang kita izinkan, itu bagian dari uang jajan. Di KJP itu (alokasi untuk) kacamata ada dan uang jajan ada. Dia mau makan KFC juga boleh selama sekolahnya aktif itu yang kita lakukan. Untuk anak itu (memenuhi) gizi, silakan hemat (dengan jajan menggunakan KJP)," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2015).
Namun, Ahok melarang penyalahgunaan KJP untuk membeli alat yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan sekolah dan pribadinya, seperti handphone segala macam. Ahok juga menyebut pihaknya bisa mengecek penggunaan debet KJP melalui EDC Bank DKI sebab setiap transaksi akan senantiasa tercatat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Penggunaan) 97 % masih tepat. Kita anggap masih tepat.yang tidak tepat itu kalau seluruhnya tidak beli tas, semua beli Indomie dia jualan itu nggak boleh. Tapi kalau dia beli tas, beli pulpen dan hemat uang naik bus terus dia coba beli KFC yang murah kami lepasin karena itu bagian dari kejiawaan anak," kata Ahok.
Meski demikian, Ahok tetap meyakini yang namanya kebocoran masih ada walaupun aturan sudah diperketat. Akan tetapi untuk menekan kebocoran di mana-mana, nantinya Ahok juga ingin memberikan bantuan sosial secara non-tunai alias melalui transaksi bank.
"Saya yakin program KJP yang tidak boleh tarik tunai sama sekali pun sudah tepat. Penyimpangan masih ada, pasti ada sampai kiamat pasti ada tapi bagaimana penyimpangan itu cepat kami tangkap karena sistem bank ada cash management system," urainya.
"Nanti yang bantuan sosial pun debit juga. Saya tidak mau lagi orang kebakaran banjir dikasih nasi sayur kita enggak jelas ngehitungnya mending kasih uang dia beli saja di situ kita bisa lihat dia beli apa. Warga Jakarta saya dorong harus punya rekening bank. Dengan begitu bisa bantu perekonomian warga," tutup Ahok. (aws/aan)











































