Gelombang Ekstremisme Meningkat, Indonesia Tawarkan Dialog

Laporan dari Den Haag

Gelombang Ekstremisme Meningkat, Indonesia Tawarkan Dialog

Eddi Santosa - detikNews
Selasa, 29 Sep 2015 21:53 WIB
Gelombang Ekstremisme Meningkat, Indonesia Tawarkan Dialog
Foto: Eddi Santosa
Den Haag - Radikalisasi, xenofobia dan gelombang kekerasan ekstremisme yang mengkhawatirkan terus meningkat. Indonesia menawarkan dialog.

"Banyak kelompok ekstrim meneruskan tindakan brutal, mengakibatkan korban serta penderitaan pada anak-anak dan perempuan," demikian disampaikan Dirjen IDP Kemlu RI Dubes Esti Andayani dalam sambutan pada Dialog Lintas Agama (DLA) Indonesia-Belanda di Den Haag (25/9/2015).

Menurut Esti, kalangan belia adalah sasaran paling rentan dari kelompok ekstrimis. "Mereka yang terkucil dari integrasi sosial dan peluang ekonomi terus menjadi mangsa empuk kelompok ini," imbuh Esti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keadaan dipertajam dengan meningkatnya penggunaan media dalam penyebaran kebencian untuk bahan bakar tindak kekerasan antara kelompok-kelompok yang berbeda.

Permasalahan ini nyaris merata secara global di tengah masyarakat yang berkeragaman dan multikultural, termasuk negara-negara di Eropa, tak terkecuali Belanda.

Oleh sebab itu, Esti menekankan pentingnya bagi para pemimpin berbagai agama untuk berbicara di komunitas mereka dan terlibat dalam dialog intra-iman untuk menghadapi isu ekstremisme.

Dia memaparkan pengalaman dan upaya yang telah dilakukan Indonesia, sebuah negara dengan komposisi demografi paling kompleks di dunia, dalam mengembangkan dialog.

"Sebagai negara dengan beragam budaya, agama, etnik dan bahasa, Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan, toleransi dan harmoni," jelas Esti.

Atas alasan ini, Indonesia telah melakukan berbagai macam inisiatif dalam memajukan dialog antar agama pada tingkat multilateral, regional dan bilateral.

Pada tingkat multilateral Indonesia telah menjadi tuan rumah 6th Global Forum of the United Nations Alliance of Civilitations di Bali (28-30 Agustus 2014).

Dalam konteks regional, Indonesia memainkan peran aktif dalam memajukan dialog antara agama melalui berbagai fora, antara lain ASEM dan APEC.

Demikian halnya pada tingkat bilateral, Indonesia menjalin kerjasama bilateral dalam dialog antara agama dengan 25 negara, antara lain Amerika Serikat, Argentina, Austria, Belanda, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Ceko, Chile, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Kroasia, Lebanon, Slowakia, dan Vatikan.

Indonesia bersama Norwegia juga menjadi sponsor Global Inter-Media Dialogue dengan tujuan sebagai upaya mencapai keseimbangan antara memajukan toleransi dan kebebasan berekspresi oleh media.

Diplomat senior Kemlu RI itu juga mengutarakan gagasan mengenai urgensi untuk memiliki pendidikan antar agama pada tingkat internasional, regional dan nasional.

"Hal ini akan dapat mengembangkan saling pengertian mengenai nilai-nilai kemanusiaan bersama di antara agama dan keyakinan yang berbeda-beda," demikian Esti.

Dialog dihadiri oleh KUAI RI Ibnu Wahyutomo, kalangan akademisi, para tokoh agama, media, pejabat pemerintah, LSM dan tokoh masyarakat setempat.

Dialog ini menurut Direktur Diplik Al Busyra Basnur dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman publik Belanda mengenai Islam di Indonesia yang moderat dan memperkuat status Indonesia sebagai negara yang mengedepankan the force of dialogue.

Di samping itu juga untuk meningkatkan hubungan antar masyarakat serta memperkuat citra Indonesia sebagai salah satu negara pelopor interfaith dialogue.


(es/fdn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini