Fahira Idris Kutuk Pembunuhan Aktivis Anti Tambang di Lumajang: Hukum Diinjak-injak

Fahira Idris Kutuk Pembunuhan Aktivis Anti Tambang di Lumajang: Hukum Diinjak-injak

Salmah Muslimah - detikNews
Selasa, 29 Sep 2015 17:24 WIB
Fahira Idris Kutuk Pembunuhan Aktivis Anti Tambang di Lumajang: Hukum Diinjak-injak
Foto: Nur Hadi Wicaksono
Jakarta - Suara keras datang dari anggota DPD Fahira Idris terkait penganiayaan dan pembunuhan aktivis anti tambang di Lumajang, Jatim. Fahira menyebut hukum telah diinjak-injak oleh sekelompok orang yang dengan mudahnya menganiaya dan membunuh.

"Bayangkan di negara yang hukum katanya jadi panglima ini, ada sekelompok orang dengan mudahnya menyiksa dan menghabisi nyawa orang lain, terang-terangan, di muka umum bahkan di depan Balai Desa yang merupakan simbol negara di desa. Apa namanya kalau bukan menginjak-nginjak hukum dan konstitusi negara," tegas Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (29/9).

Menurut Fahira, kejadian di Lumajang harus jadi peringatan bagi negara bahwa hak mendapatkan keamanan yang merupakan hak dasar rakyat yang dijamin konstitusi belum sepenuhnya terpenuhi. Pelakunya harus dihukum seberat-seberatnya termasuk otak dibalik kejahatan kemanusian ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fahira meminta, Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan harus turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Kejadian di Lumajang adalah kejahatan serius sehingga harus juga ditangani secara serius untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap wibawa pemerintah dalam melindungi warga negaranya.

"Saya berharap Presiden instruksikan langsung Kapolri untuk mengusut tuntas kasus ini. Para pelaku pembunuhan ini secara tidak langsung sudah menantang negara karena melakukan tindakan kejahatan secara terang-terangan. Mereka seakan-akan menganggap tidak ada hukum negeri ini. Orang-orang seperti ini harus dihukum seberat-beratnya," ungkap Senator Asal Jakarta ini.

Selain di Lumajang, lanjut Fahira, di daerah-daerah lain di Indonesia masih banyak bersemai konflik antara penduduk desa atau warga dengan para pemilik tambang yang berpotensi melahirkan tindakan-tindakan kekerasan.

"Konflik terkait tambang pasir di Lumajang ini kan bukan sehari dua hari terjadi. Harusnya aparat sudah bisa mendeteksi potensi-potensi kekerasan karena sebelum kejadian pembunuhan ini, warga dan korban sedang mempersiapkan aksi damai menolak pertambangan pasir di desanya. Seharusnya bisa dicegah," ujar Fahira.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Sabtu (26/9) lalu, dua orang petani di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur, dianiaya sekelompok orang karena menolak tambang pasir di wilayah tersebut. Korban Salim Kancil meninggal dan Tosan sedang kritis di rumah sakit. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads