"Aku kalau tidur sekarang tidak lagi ngeloni (memeluk) HT," kata Risma saat ditemui ketika jalan-jalan di Taman Ekspresi, Jl Gentengkali, Surabaya, Selasa (29/9/2015) sore.
Risma biasanya selalu tak bisa lepas dari HT miliknya untuk memantau dan koordinasi untuk penataan kota. Perempuan yang kini dicalonkan kembali sebagai wali kota Surabaya periode 2015-2020 ini mengaku bisa cepat adaptasi setelah tak lagi menjabat. Ia juga tak merasa post power syndrome.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku biasa ae ya sedikit berkurang bebannya, bukan beban pekerjaan lo.Tadi pagi resik-resik rumah terus muter-muter. Ndelok taman ae saiki," katanya.
Tak lupa, Risma juga menyempatkan olah raga refleksi atau terapi di lantai berbatu. Dia menegaskan jika sekarang menjadi warga biasa dan tidak terikat protokoler sehingga lebih leluasa.
"Saiki wes dadi warga biasa. Mosok aku ga boleh," kata Risma sambil tertawa.
Hanya saja, Risma mengaku kikuk dengan adanya pengawalan dari kepolisian sebagai bagian prosedur tetap calon wali kota.
"Tapi piye maneh iku aturane (Tapi bagaimana lagi, itu aturannya). Cuma aku iku ra tahu njaluk pengawalan (Cuma aku tidak pernah minta pengawalan)," katanya.
Sebelum bersantai ke taman, Risma sempat menemui relawan pendukungnya agar menaati aturan.
"Tadi saya minta tidak pasang baliho atau spanduk. Jangan ya," kata Risma. (gik/try)











































