"Kami tadi menerima perwakilan aksi tani. Saya kira tadi banyak persoalan yang disampaikan. Ada dua isu besar," ujar Teten di Kantor KSP, Gedung Bina Graha, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2015).
Pertama, jelas Teten, para petani meminta program reformasi agraria dapat berjalan tepat sasaan. Kedua, terkait dengan masalah konflik agraria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain KSP, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan juga ikut saat menerima perwakilan massa petani tersebut. Dikatakan Ferry, dalam menjalankan program reformasi agraria pemerintah berprinsip tidak akan mencabut penghidupan orang yang basis pekerjaannya tanah.
"Soal konflik saya lihat soal mengaudit luasan lahan dan kontrolnya itu. Ketika ada perpanjangan itu seolah-olah otomatis padahal tidak seperti itu. Kedua soal kemanfaatan lahan itu penting. Perusahaan kalau dia hanya bisa memanfaatkan setengahnya ngapain kita teruskan. Dalam prinsip reformasi agraria memang kita tidak mau mencabut penghidupan orang yang basisnya adalah tanah," jelas Ferry. (jor/dhn)











































