Wasiat itu, menurut Djliteng, terlontar dari mulut mendiang ayahnya tahun 1971 silam. Sesuai perintah sang ayah, dia pun bergabung dengan sejumlah grup kesenian ludruk yang kala itu cukup populer dan laris di Mojokerto dan Jombang. Di antaranya Karya Budaya dan Sari Murni.
Namun, menjadi pelawak ludruk bukanlah yang dimaksud mendiang ayahnya. Ternyata Djliteng disuruh ikut kelompok ludruk agar bisa mempelajari kondisi kehidupan masyarakat kala itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dorongan untuk membantu sesama ditegaskan lagi oleh ayahnya pada tahun 1975. Kala itu, Djliteng muda diberi warisan berupa payung dan tongkat. Kedua benda itu menjadi simbol bahwa dirinya harus mengayomi semua orang dan menjadi penopang bagi kaum yang lemah.
Ternyata tak mudah bagi Djliteng untuk menjalankan wasiat ayahnya. Bapak 6 anak ini butuh waktu 11 tahun untuk memulai aksi sosialnya. Pada tahun 1986, Djliteng menyisihkan sebagian kecil penghasilan sebagai pelawak ludruk untuk menyekolahkan beberapa anak tetangga yang putus sekolah hingga jenjang SMA.
![]() |
"Tahun 1984 saya bertemu orang gila di jalan. Kemudian saya ajak pulang ternyata nurut. Setelah 3 hari saya rawat, akhirnya laki-laki itu pulih dan saya antar pulang ke Solo," ungkap Djliteng mengenang pengalaman pertamanya merawat orang gila.
Perlahan, kemampuan Djliteng menyembuhkan penderita gangguan jiwa mulai tersebar ke masyarakat. Pada tahun 1992, pasien mulai datang ke rumahnya di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
Berselang 2 tahun kemudian, pria bertubuh mungil ini mendirikan Padepokan Among Budaya Sastro Loyo yang berjarak sekitar 1 Km dari Makam Troloyo. Namun, penghasilannya sebagai pelawak ludruk tak cukup untuk merawat puluhan pasien yang silih berganti datang ke rumahnya.
"Saat itu saya sudah nyicil peralatan sendiri, alat gamelan dan sound sistem. Tahun 2004 saya meresmikan Paguyuban Ludruk dan Campursari Among Budaya Sastro Loyo. Hasil pementasan untuk merawat pasien disini," sebutnya.
Tak terasa, aksi sosial Djliteng itu berjalan sekitar 23 tahun lamanya. Tak terhitung lagi pasien gangguan jiwa yang dia sembuhkan. Begitu pula biaya yang dia keluarkan selama ini.
Puluhan pasien gangguan jiwa dari sejumlah daerah di Jatim dan Jateng silih berganti tinggal di pedepokan miliknya. Saat ini saja terdapat 21 penderita gangguan jiwa yang dirawat Djliteng. 3 Orang di antaranya merupakan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Sementara 18 pasien laki-laki berusia antara belasan hingga 39 tahun. Mereka mengalami gangguan jiwa akibat beberapa faktor. Antara lain, akibat tekanan ekonomi, putus cinta, perceraian orangtua, ada yang melakoni ilmu tanpa guru, hingga kasus narkoba.
(ugik/try)












































