"Dia cuma bilang kalau pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Kalau ditanya agak mendetail, ekspresinya menunjukkan kalau dia kurang suka," ujar Iqbal saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Senin (28/9/2015).
Iqbal mengaku terakhir kali bertemu Tata pada Idul Fitri 2014 lalu. Saat itu menurut Iqbal, Tata terlihat tak memiliki masalah serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak," jawab Iqbal.
"Kalau ditanya hal yang lain selain pekerjaan, ekspresinya bagaimana?" kembali Rafky bertanya.
"Biasa saja," jelas Iqbal.
"Apakah Anda kenal dengan teman-temannya Tata?" tanya jaksa Shandy Handika.
"Nggak kenal, tapi pada saat kejadian, mereka mengenalkan diri," jawab Iqbal.
"Anda sendiri tahunya kapan adik Anda meninggal?" tanya hakim ketua Nelson Sianturi.
"Pada saat kejadian, saya ditelepon oleh sepupu saya untuk datang ke kos Dedeuh di Jalan Tebet Raya. Namun dia tak menjelaskan kenapa. Setelah saya tanya terus, akhirnya dia cerita bahwa Dedeuh meninggal," jawab Iqbal.
"Jadi, apa penyebab kematian adik saksi?" tanya hakim Nelson.
"Katanya korban kehabisan oksigen, cuma tidak dikasih tahu detailnya. Ada bekas lebam di bagian lengan," kata Iqbal.
"Apakah saat itu Anda mendapat informasi siapa yang melakukan perbuatan tersebut?" tanya hakim Nelson.
"Tidak," jawab Iqbal.
Kasus pembunuhan ini terjadi di sebuah rumah kos di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada 11 April 2015. Dedeuh alias Tata ditemukan tewas tanpa busana dengan mulut tersumpal serta terjerat kabel di kamar kosnya. Tata diketahui berprofesi sebagai wanita panggilan.
Tata dibunuh oleh pelanggannya, Priyo Santoso. Dalam berkas dakwaan, Priyo mengaku membunuh karena kesal diejek korban bau badan. Selain membunuh, Priyo juga mengambil sejumlah barang berharga milik Tata.
(rni/slm)











































