Buku berjudul Transformasi TNI: Dari Prajurit Kemerdekaan Menuju Tentara Profesional dalam Demokrasi karya Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo itu dibedah di kantor CSIS Jl Tanah Abang 3, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2015).
Buku tersebut akan dibedah oleh Mantan Wakasad Let Purn TNI Kiki Syahnakri, Mantan Seskab dan pengamat pertahanan Andi Widjajanto, CEO Polmark Indonesia Eep Saefulloh, Direktur Imparsial Al'araf dengan moderator pengamat pertahanan Jaleswari Pramodhawardani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara itu semula akan dihadiri oleh Panglima TNI Jend TNI Gatot Nurmantyo, namun berhalangan dan diwakilkan Laksamana Muda Agus Pramono. Dia membacakan sambutan Gatot soal tanggapan atas buku transformasi TNI yang memiliki sekitar 700 halaman.
"Saya menilai sangat tepat saat ini institusi TNI menata diri menjadi organisasi yang profesional dan modern," ucap Agus Pramono membacakan pesang Panglima TNI.
Menurut Panglima, ada beberapa elemen dasar yang harus dipenuhi untuk mewujudkan TNI yang profesional dan modern. Pertama, pemutakhiran doktrin dan organisasi Tri Dharma Eka Kharma sehingga fleksible dengan kondisi zaman dan ancaman.
"Kedua, modernisasi alutsista. Kondisi alutsista saat ini rata-rata hampir 55 persen berusia 30 tahun. Persedian amunisi TNI hanya mendukung kondisi terbatas, sedangkan negara tetangga mampu mengungguli kemampuan tertentu dihadapkan pada perkembangan saat ini," ujarnya.
Ketiga peningkatan sumber daya manusia yang menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan disamping sumber daya lain. Keempat, peningkatan kerjasama dengan negara lain. Kelima kemanunggalan TNI dan rakyat.
"Kedaulatan negara terancam jika militer tidak kuat," ucap Pramono saat membacakan sambutan Gatot. (miq/spt)











































