Daniel Chaniago, salah satu warga mengaku kebun karetnya dirusak gajah liar ini. "Kemarin gajahnya masuk kebun saya, sudah 100 batang pohon karet saya roboh," ucap Daniel kepada detikcom, Senin (28/9/2015). Daniel tidak berani mengambil foto gajah itu karena takut. Seperti warga lainnya, dia memilih menghindar.
Menurut Daniel, gajah itu beberapa bulan lalu juga masuk ke permukiman dan sudah dikembalikan ke habitatnya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Namun gajah itu kembali lagi ke permukiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daniel mengatakan, warga di sana sudah terbiasa dengan gajah. Warga tak takut jika gajah hanya lewat dekat permukiman mereka untuk migrasi tahunan. Namun jika gajah tersasar ke permukiman dan dianggap mengganggu, maka yang menderita kerugian bukan hanya warganya tapi juga bisa berbahaya bagi gajah.
"Saya harap ada pemerintah yang mau menyelesaikan masalah ini. Soalnya kasihan gajahnya sudah mau dibunuh warga, tapi saya bilang jangan dulu tunggu orang konservasi saja," katanya.
"Sekarang saja gajahnya sudah berkurang, dulu mereka migrasi bisa berempat atau berlima ekor, tapi sekarang tinggal satu," tambahnya.
Menurut Daniel, saat ini gajah liar itu sudah bergeser ke perkebunan sawit ke arah barat. Sudah tidak di perkebunan warga lagi. Namun bisa saja gajah itu kembali ke permukiman dan bisa menimbulkan konflik kembali. (slm/nrl)











































