"Seyogyanya diganti Peringatan Tragedi Nasional 1965. Mengenang korban yang tewas 10 pahlawan revolusi termasuk 6 jenderal, Ade Irma Suryani Nasution dan 500 ribu orang di seluruh Indonesia," jelas sejarawan Asvi Warman Adam, Senin (28/9/2015).
Menurut Asvi, awalnya dahulu 1 Juni pada masa Soekarno lebih ditonjolkan. Namun kemudian di masa orde baru, 1 Juni tak pernah diperingati namun oleh Soeharto yang lebih diperingati hari kesaktian Pancasila, sejak 1966.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asvi menjelaskan, bagaimana pun tragedi nasional 1965, tidak boleh terulang kembali. "Jadi sebaiknya temanya menuju rekonsiliasi nasional yang bermartabat setelah prahara 1965," terang dia.
Asvi mengungkapkan, peringatan hari kesaktian Pancasila selama ini yang diperingati mereduksi peran Soekarno.
"Dulu semasa Megawati jadi presiden beliau merasa risih lakukan peringatan di lubang buaya. Karena peristiwa ini akhirnya menjatuhkan Soekarno dari kursi kepresidenan setelah melalui tahapan berakhir tragis dengan penahanan Bung Karno di Wisma Yaso dan wafat setelah tidak dirawat sebagamana semestinya," urai dia.
"Entah bagaimana dengan Jokowi yang didukung PDIP partai yang terkait Bung Karno. Dulu ada pemikiran peringatan di Istana atau di Kalibata di depan makam 8 pahlawan revolusi. Karena 2 pahlawan revolusi lain dimakamkan di Yogya," tutup dia.
(aws/dra)











































