Kisah Tentang Diorama Supersemar di Monas dan Protes dari Pengunjung

Kisah Tentang Diorama Supersemar di Monas dan Protes dari Pengunjung

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2015 14:31 WIB
Kisah Tentang Diorama Supersemar di Monas dan Protes dari Pengunjung
Foto: Edward Febriyati/Soekarno terbaring sakit dan ada 3 jenderal menemani
Jakarta - Diorama di Monumen Nasional (Monas), Jakarta perlu di-update. Sudah puluhan tahun, diorama tak berganti. Terakhir hanya hingga tahun 1992. Tak ada lagi sejarah terkini.

Tak heran bila diorama yang tak update itu mengundang keresahan kalangan sejarawan. Kritik datang dari Bayu Priyanto, pengajar dari SMA swasta di Depok, Jabar yang membawa murid-muridnya ke Monas. Bayu kaget, karena cerita diorama sejarah Indonesia sejak zaman prasejarah berhenti di masa orde baru. Tak ada era reformasi dan juga peristiwa '98. Diorama Monas masih menggambarkan versi orde baru.

Belum lagi keterangan catatan kaki di diorama tak diubah, misalnya saja soal Supersemar. Sejauh ini soal Supersemar sendiri masih misterius dan debatable. Apakah benar ada surat itu, apakah benar Soeharto yang mendapat perintah. Begini isi keterangan dalam diorama Supersemar:

'Krisis yang yang menggoncangkan sendi-sendi negara sesudah kudeta G 30 S/PKI digagalkan menyebabkan pemerintah kehilangan kepercayaan rakyat. Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan kewibawaan pemerintah dan keamanan nasional. Letjen Soeharto dengan cepat melaksanakan Surat Perintah 11 Maret 1966 dengan memenuhi dia diantara tri tuntutan rakyat, yakni membubarkan Partai Komunis Indonesia dan membersihkan kabinet dan menteri-menteri yang ada indikasi terlibat G 30 S/PKI'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan ternyata, soal urusan Supersemar ini, tour guide juga banyak mendapatkan pertanyaan dari pengunjung. Ada juga diantara mereka yang protes.

"Ya ada. ya kita juga menjelaskannya bagaimana adanya saja. Karena saya juga bukan ahli sejarah kita hanya tahu dari tulisan beda dengan ahli sejarah, terkadang ada saja yang berdebat kita hanya mengatakan kalau diorama ini garis besar Indonesia," urai seorang pria yang menjadi tour guide, Sabtu (26/9/2015).

"Sebagai guide kita juga cuma membaca tulisan yang disitu. Tidak menerangkan sejarahnya bagaimana," tambah dia.

Selaku tour guide dia juga tak bisa berbuat apa. Semua sudah ada penjelasannya. Demikian juga soal pertanyaan mengapa tumbangnya Soeharto dan era reformasi tak ada dioramanya.

"Ini cuma sampai tahun 1992 saja, kalau teknologi hanya sampai 1995," ucap dia tak menjelaskan lebih jauh. (edo/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads