"Sayang sekali memang, diorama itu berhenti di era Soeharto. Tidak ada diorama mengenai zaman reformasi," urai Bayu Priyanto, pecinta sejarah alumni jurusan sejarah Universitas Negeri Jakarta saat berbincang, Sabtu (26/9/2015).
Bayu yang juga guru SMA di sebuah sekolah swasta di Depok, Jabar ini menerangkan. Diorama ini juga masih bernuansa orde baru. Menurut dia, amat sangat menonjol peran Soeharto dan orde baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian juga peristiwa G 30/S PKI digambarkan dalam diorama itu. Soeharto dalam diorama itu terlihat memandang bagaimana proses pengambilan jenazah di sumur.
"Soal peristiwa G 30/S PKI ini juga masih debatable lah," urai dia.
Yang dia sayangkan, setelah itu diorama berganti ke zaman orde baru. Bagaimana era baru berkuasa. Tapi kemudian selesai. Tak ada peristiwa '98 tumbangnya Soeharto.
"Kita tidak melihat bagaimana kemudian Soeharto tumbang oleh mahasiswa, kemudian naik Presiden Gus Dur, lalu Megawati, kemudian SBY dan sekarang Jokowi," ujarnya.
Bayu menuturkan, kalau tak dibenahi soal ini amat sayang sekali. Banyak pelajar yang mereferensi Monas sebagai destinasi wisata study tour.
"Saat saya berkunjung bersama murid-murid, ini di sana ada juga banyak siswa SD, SMP, dan bahkan ada siswa-siswi asing dari negara lain. Ya semoga saja soal yang mungkin dianggap kecil ini jadi perhatian. Apalagi Monas kan icon Jakarta," tutup Bayu. (dra/dra)










































