Diorama Monas yang Masih Kental Nuansa Orde Baru Mengundang Kritik

Diorama Monas yang Masih Kental Nuansa Orde Baru Mengundang Kritik

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2015 11:28 WIB
Diorama Monas yang Masih Kental Nuansa Orde Baru Mengundang Kritik
Foto: bayu/pembaca
Jakarta - Anda pernah berkunjung ke Monas? Bila Anda pernah ke Monas pasti tahu aneka diorama perjalanan sejarah. Ya, saat pengunjung datang ke Monas, akan disuguhi perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga zaman orde baru. Ya, hingga zaman orde baru. Setelah itu tak ada lagi diorama yang dibuat.

"Sayang sekali memang, diorama itu berhenti di era Soeharto. Tidak ada diorama mengenai zaman reformasi," urai Bayu Priyanto, pecinta sejarah alumni jurusan sejarah Universitas Negeri Jakarta saat berbincang, Sabtu (26/9/2015).

Bayu yang juga guru SMA di sebuah sekolah swasta di Depok, Jabar ini menerangkan. Diorama ini juga masih bernuansa orde baru. Menurut dia, amat sangat menonjol peran Soeharto dan orde baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Soeharto digambarkan menerima Supersemar, ini kan masih perdebatan. Dalam diorama itu digambarkan Soekarno terbaring sakit kemudian ada tiga jenderal di sisinya. Ini kan pembenaran orde baru mengenai Supersemar," terang dia.

Kemudian juga peristiwa G 30/S PKI digambarkan dalam diorama itu. Soeharto dalam diorama itu terlihat memandang bagaimana proses pengambilan jenazah di sumur.

"Soal peristiwa G 30/S PKI ini juga masih debatable lah," urai dia.

Yang dia sayangkan, setelah itu diorama berganti ke zaman orde baru. Bagaimana era baru berkuasa. Tapi kemudian selesai. Tak ada peristiwa '98 tumbangnya Soeharto.

"Kita tidak melihat bagaimana kemudian Soeharto tumbang oleh mahasiswa, kemudian naik Presiden Gus Dur, lalu Megawati, kemudian SBY dan sekarang Jokowi," ujarnya.

Bayu menuturkan, kalau tak dibenahi soal ini amat sayang sekali. Banyak pelajar yang mereferensi Monas sebagai destinasi wisata study tour.

"Saat saya berkunjung bersama murid-murid, ini di sana ada juga banyak siswa SD, SMP, dan bahkan ada siswa-siswi asing dari negara lain. Ya semoga saja soal yang mungkin dianggap kecil ini jadi perhatian. Apalagi Monas kan icon Jakarta," tutup Bayu. (dra/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini