Lebih dari 100 tokoh tergabung dalam SDSN, mulai dari mantan pejabat, akademisi, pengusaha, profesional, dan tokoh agama. Din yang merupakan mantan Ketum Muhammadiyah dipilih mewakili Islam dalam kapasitasnya sebagai Co-President of Religions for Peace. Demikian dijelaskan dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (25/9/2015).
Selain Din, ada pula sejumlah anggota SDSN yang berasal dari Indonesia yaitu mantan Menlu Hasan Wirayuda, mantan Menparekraf Mari Elka Pangestu dan Cherie Nursalim yang mewakili LSM di Singapura. Din sendiri merasa mendapat kehormatan dan bergembira karena bisa bergabung dalam organisasi dunia ini. Dia berjanji akan memberikan pemikiran terbaiknya bagi pembangunan dan kemanusiaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SDSN dibentuk Sekjen PBB untuk membantu memberi solusi terhadap penerapan Sustainable Development Goals (Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs). SDGs yang merupakan pelanjut/pengganti MDGs akan disahkan Sidang Umum PBB yg berlangsung tanggal 25-27 September tahun ini.
"Lembaga ini bukan lembaga resmi PBB, tapi prakarsa global yang diluncurkan Sekjen PBB dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga PBB," jelas Din.
SDGs yang segera diterapkan di seluruh negara memang memerlukan dukungan segenap sektor masyarakat. Maka SDSN berfungsi sebagai pengendali dan pemantau pelaksanaannya melalui kemitraan global antar semua sektor baik pemerintah maupun masyarakat madani. Untuk itu ada sejumlah Kelompok-kelompok Tematis sesuai dengan 17 Agenda SDGs, seperti kemiskinan, buta aksara, pengangguran, keadilan gender, atau kerusakan lingkungan, dan lain-lain. Kalangan agamawan dituntut perannya untuk memberi perspektif etika bagi penerapan agenda tersebut.
Pada Sidang Umum PBB yang akan mengesahkan SDGs, hadir seratusan kepala negara dan pemerintahan. Indonesia diwakili oleh Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Kerja. (imk/imk)










































