Kamis (24/9/2015), pukul 11.00 waktu setempat, personel UGD RS Mina Al Jisr seperti tidak diberikan menghela nafas. Korban terus berdatangan diantar ambulans tanpa henti, setelah serah terima korban mereka lalu pergi.
Penanganan terhadap korban Mina di Dokter Mina Al Jisr sangat cepat dan terkoordinir. Setiap korban yang datang langsung mendapat perawatan pertama tanpa melihat asal negara dan identitas korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yellow, yellow!" teriak petugas itu bila ada pasien yang datang sudah terbaring lemah.
"Green, Green!" sahut sang petugas bila pasien yang tiba masih bisa berjalan sendiri.
Dokter di dalam UGD langsung bereaksi mendengar perintah itu dan langsung membawa pasien sesuai kategorinya. Kondisi jemaaah haji yang terluka sangat variatif, ada yang ketika turun dari ambulans sedang ditekan-tekan dadanya seperti melakukan CPR oleh tenaga medisnya.
Baca juga: Begini Gambaran Tragedi Mina yang Tewaskan 717 Jemaah Haji
Kebanyakan jemaah haji yang menjadi korban berasal dari Pakistan, India, Afrika, dan Bangladesh. Tak terlihat ada luka fisik di tubuhnya karena mereka sedang mengalami dehidrasi parah atau heat stroke.
Di bilik-bilik UGD korban yang mengalami dehidrasi atau heat stroke dibasahi tubuhnya dengan air. Sebuah kipas angin berukuran besar diarahkan ke pasien untuk menurunkan suhu tubuh mereka. Dehidrasi atau heat stroke menyebabkan orang dalam kondisi semi sadar, terkadang kerap melakukan sesuatu di luar kehendak mereka.
Petugas keamanan melarang pihak yang tidak berkepentingan untuk masuk, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang datang ke RS Mina A-Jisr untuk mengetahui apakah ada korban dari jemaah haji Indonesia.
Petugas lain mengatakan saat ini pasien terluka sangat banyak dan belum mengidentifikasi mereka. Mereka mengatakan akan memberikan data secukupnya setelah darurat Mina selesai.
(gah/jor)











































