Bersama rombongan BNP2TKI, detikcom berkesempatan melihat tempat para anak-anak TKI belajar di kawasan Menara Kembar, kawasan perkebunan sawit Felda Globa Ventures (FGV) Malaysia. Kondisi kelas terlihat sangatlah kurang layak untuk proses belajar mengajar. Pasalnya anak-anak yang berjumlah puluhan itu harus belajar di kursi dan meja belajar yang sudah reot serta ruang kelas yang pengap karena dalam satu kelas ada tiga kegiatan belajar mengajar dari SD, SMP dan SMA.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah bisa sekolah saja sudah bersyukur. Di sini enak pengajarnya baik," ujar salah satu murid bernama Zurah kelas 1 SMP saat berbincang, Rabu (23/9/2015).
Zurah menerangkan, walau sudah lima tahun tinggal di Malaysia, dirinya tetap merindukan tanah air. Bahkan dirinya bertekad belajar dengan baik untuk menjadi seorang dokter di Indonesia.
"Walau lebih enak di Indonesia karena negara sendiri, tetapi di sini saya harus menunjukkan yang terbaik dan menjadi murid terbaik. Karena cita-cita saya mau menjadi dokter di Indonesia," cerita Zurah yang sudah lima tahun di Malaysia untuk ikut orangtuanya bekerja.
![]() |
Hal berbeda diceritakan, siswa kelas 2 SMA Alfina Anwar (16). Dirinya meminta pemerintah Indonesia melihat dah membantu pendidikan di tempatnya.
"Kalau boleh ada bantuan pendidikan seperti tambahkan buku pelajaran, guru dan ruangan," terang Alfina.
Permintaan Alfina memang sangatlah dibutuhkan di sekolah-sekolah yang dibangun oleh Yayasan Peduli Insani Indonesia. Pasalnya, para anak SMA bisa mendapatkan pelajaran SMP.
"Itu menyulitkan ketika UN hanya separuh saja pembelajaran yang sesuai. Karena kita belajarnya bareng-bareng jadinya SMA bisa mendapat pelajaran SMP," terang Alfina.
![]() |
Adapun kekurangan dalam proses belajar mengajar, tidak membuat Alfina tidak memiliki cita-cita tinggi. Dirinya mengaku ingin sekali menjadi polisi wanita (Polwan).
"Saya mau jadi Polwan di Indonesia. Karena suka lihat polisi," tutup Alfina.
(spt/Hbb)













































