"Pulau Seribu miniaturnya Indonesia, pintu masuk DKI. Kami berkomitmen akan membuat wisata bahari di Kepulauan Seribu. Salah satunya dengan wisata kuliner," ujar Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo saat menerima kunjungan Menristek Dikti M Nasir, Rabu (23/7/2015).
Banyak program yang dilakukan oleh Pemkab setempat bekerja sama dengan berbagai instansi dan dilakukan di sejumlah pulau dari total 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Meski begitu, yang masih menjadi kendala adalah masalah trasnportasi di wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya kapal seperti busway, biaya angkutan termasuk untuk barang pun disebut Budi nantinya akan lebih murah. Apalagi jika jumlah armada menjadi lebih banyak.
Potensi alam di Kepulauan Seribu sendiri banyak dijadikan sebagai lahan atau tempat dilakukannya penelitian. Budi pun menyambut baik dan akan memanfaatkannya sebagai wisata penelitian dalam menunjang program wisata bahari di Kepulauan Seribu.
"Kami juga kerjasama dengan LIPI untuk pengembangan rumput laut. Dulu rumput laut sempat booming di sini dan banyak membantu perekonomian masyarakat. Kualitas termasuk terbaik namun perlahan mulai menghilang makanya kami ingin coba garap lagi," terang Budi menuturkan.
Menristek Dikti bersama BPPT pun juga melakukan penelitian sumber daya laut di Kepulauan Seribu. Seperti pengembangan budidaya ikan nila Laut di Pulau Panggang.
"Apapun kami dukung selama itu kembali lagi bisa dimanfaatkan sebagai salah satu wisata bahari. Kami juga ingin pengembangan olahraga terkait pariwisata seperti yang baru dilakukan yaitu lomba selam," tutur Budi.
"Di Pulau Karya sudah ditetapkan Menag sebagai pusat tempat menghitung hilal. Maka kami akan buat sebagai pariwisata perbintangan, jadi ada wisata edukasi. Pulau terjauh kami Pulau Sembira potensi lautnya bagus. Kami ada penelitian juga dengan dinas kelautan di Tidung Besar untuk budidaya bawal bintang dan kerapu bebek. Itu memang luar biasa, kelasnya ekspor," sambungnya.
Mendapati informasi dari Budi, Menristek Dikti pun tergerak untuk menambah penelitian di Kepulauan Seribu. Ia ingin memperbanyak penelitian yang nantinya akan memiliki nilai guna bagi masyarakat, khususnya warga setempat.
"Oleh karena itu apa yang dilakukan BPPT bisa kita kembangkan agar ada nilai tambah. Jadi selain wisata bahari, inovasi bisa dimanfaatkan bagi perekonomian masyarakat," ucap Nasir di lokasi yang sama.
"Masalah rumput laut, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana lingkungan air lautnya. Kandungannya apa karena untuk menjaga kualitasnya, misalnya seperti di Sulawesi ada wilayah yang tidak boleh ada yang lewat kapal di tempat budidaya," lanjut dia.
Bukan hanya sekedar kerjasama antar Pemkab dan Kementerian saja, nantinya Nasir berencana akan mendatangkan para ahli untuk semakin mengangkat potensi alam yang ada di Kepulauan Seribu. Termasuk dengan mengajak sejumlah ahli dari perguruan tinggi terkait.
"Kita jadikan Kepulauan Seribu sebagai laboratorium hidup. Di sini kita sudah punya udang Tanggo, kita punya ikan Maharsi, ada bandeng lautnya. Belum lagi kita bisa kembangkan sollar cell di sini. Wah, luar biasa. Ini desain yang bagus. Penelitian itu tidak cukup hanya riset saja. Tapi perlu inovasi dengan hilirisasi dan komersialisasi untuk mendatangkan nilai guna bagi masyarakat," tutup Nasir. (elz/bag)










































