"Dari dulu saya dekat dengan beliau, masa aktif jadi pendekar. Dia itu orang yang punya semangat tinggi terus. Punya semangat juang. Itu saya kira yang bisa mengilhami orang muda. Saya ini kan juga orang muda," kata Darmin di rumah duka, Jl Poncol Lestari No 7, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2015) malam.
Darmin berkisah soal pengalaman tak terlupakannya bersama Adnan Buyung. Kala itu, mereka harus berupaya menyelesaikan permasalahan listrik di tengah krisis moneter saat pemerintahannya BJ Habibie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita pernah satu periode, menghadapi (masalah) listrik (waktu pemerintahan) Habibie. Waktu itu di zaman Pak Habibie, kita benar-benar berjuang. Saya sekretaris timnya, Bang Buyung megang legal-nya," kenang dia.
"Pada waktu itu listrik, pihak swasta sudah kontrak, rupiah juga jatuh. Tiba-tiba tarif yang disepakati terlalu mahal. Berapa tahun kita coba beruding terus," lanjutnya.
Meski dia mengatakan tidak 100 persen berhasil, namun pengalaman itu lah yang membuat dirinya kian mengagumi Adnan Buyung. Betapa luwes kemampuan Adnan Buyung baik dalam membaca situasi maupun bernegosiasi di masa sulit sekali pun.
"Itu yang dihadapi bukan main kekuatan dunia yang dihadapi. Kalau ditanya berhasil, ya tidak 100 persen berhasil. Tapi bagaimana prosesnya," tutup Darmin. (aws/bag)











































