Kunjungi Pengembangan Nila Laut, Menteri Nasir Beri Nama 'Maharsi'

Kunjungi Pengembangan Nila Laut, Menteri Nasir Beri Nama 'Maharsi'

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 23 Sep 2015 19:51 WIB
Kunjungi Pengembangan Nila Laut, Menteri Nasir Beri Nama Maharsi
Foto: Elza Astari Retaduari
Jakarta - Menteri Ristek, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir hari ini, Rabu (23/9/2015), mengunjungi lokasi pembudidayaan Ikan Nila Laut di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Project ini sendiri bekerjasama dengan PT Nuansa Ayu Karamba sebagai penyedia lahan.

Pembudidayaan ini dilakukan dengan karamba jaring apung dan kini sudah mencapai tahapan pilot project untuk skala usaha. Ditemani oleh Kepala BPPT Unggul Priyanto, Nasir melihat-meligat karamba ikan yang ada di kompleks pembudidayaan milik PT Nuansa Ayu Karamba itu.

"Ini pasti rasanya lebih kenyal karena di laut. Kena air asin jadi kayak albino ya warnanya," ujar Nasir saat melihat hasil pengembangan Nila Laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ikan-ikan ini sudah melalui masa ujicoba dan dilakukan vaksinasi. Nila yang biasa hidup di air tawar atau payau ini setelah diadaptasikan di laut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

"Kami ingin ikan ini agar bisa menyaingi kakap. Rasanya juga lebih enak, lebih kenyal. Kandungan omeganya juga lebih tinggi. Kita mau coba nanti pakannya dengan pakan yang sama dengan kakap, supaya nutrisinya lebih banyak," ujar Kabid Teknologi Produksi Perikanan BPPT Dedi Yaniharto menjelaskan.

Menurut Deddy Nila Laut ini merupakan tindak lanjut pengembangan teknologi budidaya ikan Nila Salina yang dilakukan dengan mengadaptasikan dalam kondisi perairan laut. Nila Salina ini merupakan perekayasaan ikan Nila Salina yang dioptimalkan hidup di perairan dengan kadar garam tinggi.

Nila Salina dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dan mengotimalkan lahan tambak idle Indonesia dalam rangka mendukung program ketahanan pangan. Kini Nila Salina sudah lulus pelepasan varietas baru kementerian kelautan dan perikanan dan siap diproduksi secara massal dan dimasyarakatkan. Nila Salina inilah benih awal dari ikan Nila Laut.

"Kekurangannya Nila Laut belum bisa reproduksi di laut makanya kita sedang lakukan pengembangan lagi. Jadi untuk saat ini bibit dibawa dari darat. Tapi nggak masalah benih di darat melimpah, tinggal handling aja di sini," jelas Deddy.

Mendapat penjelasan itu, Nasir pun mengungkapkan dukungannya terhadap penelitian ini. Menurutnya inovasi itu harus mampu dimanfaatkan orang banyak atau masyarakat.

"Selama ini Nila biasa harganya Rp 18 ribuan/kg. kalau sudah di air laut, bisa sampai di atas Rp 40 ribu/kg. Maka pengusaha atau masyarakat bisa memanfaatkan ini. Paling tidak masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat bisa menjadikan ini sebagai industri," tutur Nasir.

"Tapi kalau dijual dengan nama Nila akan rendah. Karena ini bukan Nila lagi. Kita gaungkan namanya jadi ikan Maharsi," sambungnya.

Maharsi sendiri merupakan akronim dari nama 2 peneliti Ikan Nila Laut ini. Yaitu Muhammad Husni Amarullah dan Ratu Siti Aliya. Nantinya nama tersebut akan didaftarkan ke kementerian KKP sebagai varietas baru.

Nasir pun berjanji akan membantu mensosialisasikan jenis ikan ini sehingga bisa dikembangkan di seluruh bagian di Indonesia. Berawal dari PT Nusantara Ayu Karamba yang akan dimintai kerjasamanya sebagai penyedia bibit ikan Maharsi.

"Setelah masyarakat bisa mengembangkan, nanti bisa ada pengepulnya dan bisa dibawa ke Jakarta dan daerah lain. Ini prospek luar biasa. Ke depan nanti ikan di tambak juga bisa dilakukan dari air laut, mengingat adanya global warming," ucap Nasir.

"Inii pilot project sudah bisa dikatakan berhasil. Kami dari kementerian bisa membantu mensosialisasikan ke sini. Supaya ikan Maharsi bisa jadi primadona," imbuhnya.

Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo yang juga ikut menemani Nasir mengaku akan membantu program ini. Selama penelitian tersebut juga dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pariwisata.

"Pokoknya kami sekarang fokus pada wisata bahari. Apapun sampai kuliner harus berbau wisata. Ini bisa jadi wisata research, penelitan," tuka Budi di lokasi yang sama.

(elz/jor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads