Kepala BNP2TKI Dengarkan Keluhan TKI yang Bekerja di Kebun Sawit Malaysia

Laporan dari Malaysia

Kepala BNP2TKI Dengarkan Keluhan TKI yang Bekerja di Kebun Sawit Malaysia

Septiana Ledysia - detikNews
Rabu, 23 Sep 2015 14:48 WIB
Kepala BNP2TKI Dengarkan Keluhan TKI yang Bekerja di Kebun Sawit Malaysia
Foto: Septiana Ledysia
Malaysia - Kepala BNP2TKI Nusron Wahid melakukan kunjungan kerja di Malaysia. Dia berdialog dengan puluhan ribu TKI yang bekerja di ladang sawit Felga Global Ventures.

Nusron berdialog dengan ribuan TKI di kawasan Kembara Sakti, Malaysia, Rabu (23/9/2015) siang. Di situ juga hadir GM FGV Roserun dan pengurus besar karyawan FGV Sharuddin, Waksekjen MUI Nadjamudin Ramli dan Ketua Yayasan Peduli Insani Indonesia Firdaus Gigo Atawuwur.

Ada sekitar 5 TKI yang bertanya kepada Nusron di lokasi. Nasrah seorang ibu yang bekerja di ladang sahabat 43 bertanya soal hak kecelakaan kerja suaminya M Ibrahim. Menurutnya akibat kecelakaan itu, suaminya harus kehilangan jari manis di tangan sebelah kiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bagaimana solusinya Pak, sudah tiga tahun tidak ada penjelasan?," tanya Nasrah.

Sedangkan TKI lainnya, Syarif yang bekerja di ladang sahabat 52, meminta disediakan kipas dan perpanjangan waktu listrik di bilik tempat mereka beristirahat. Pasalnya, listrik di bilik para pekerja mati setiap jam 10 malam.

"Pak, itu kalau malam panas sekali, tolong disediakan kipas, ditambah diperpanjang waktu listriknya," minta pria berkumis itu dengan nada memelas.

Ada pula TKI yang meminta disediakan rumah ibadah untuk umat Kristiani. Dia mengeluhkan, setiap menumpang tempat ibadah, para TKI dimintai uang 1-2 ringgit oleh oknum aparat.

Persolan lain ialah soal biaya sekolah anak yang mahal yang diutarakan para TKI. Dan juga tidak diberikannya paspor bagi para perempuan.

"Para wanita di sini kenapa tidak bisa diberikan paspor. Tolong ada kesetaraannya," protes salah seorang TKI. Diketahui di tempat itu memang ada TKI yang bekerja secara resmi dan illegal.

Menanggapi pertanyaan mengenai asuransi, Pengurus besar wilayah sahabat timur FGV, Sharuddin mengutarakan, sepatutnya setiap pekerja memiliki asuransi. Namun, jika TKI tersebut tanpa dokumen sah dalam bekerja, tidak akan mendapatkan asuransi.

"Sepatutnya TKI dilindungi asuransi. Jika pelaku kemalangan di tempat kerja dilindungi. Saya akan ambil perhatian dan saya akan melanjutkan pertanyaannya ke pihak terkait," terang Nasrudin.

"Untuk soal kipas kita akan bicarakan apakah listrik di sana cukup," tambahnya lagi.

Mengenai persoalan sekolah anak TKI, Firdaus mengatakan, biaya yang diminta pihaknya setiap bulan 15 ringgit. Biaya itu untuk membantu biaya operasional karena sekolah di sana tidak mendapatkan bantuan pemerintah Indonesia.

"Itu bukan sekolah gratis dan kita tidak mendapatkan support bantuan Indonesia. Untuk itu ada biaya operasional ke orangtua. Dan biaya itu bisa dicicil dalam 30 hari," ujar Firdaus.

"Untuk seragam dari Indonesia, cukai bayar per lembar supaya dengan datangnya Pak Nusron bisa membantu. Buku murah tapi pengiriman yang mahal. Bapak ibu paham, biaya operasional belum dapat dari Indonesia," terang Firdaus.

Lalu, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid menjawab soal passpor untuk para wanita. Menurutnya, kalau menurut peraturan pemerintah Malaysia orang Indonesia di sini sesungguhnya tidak boleh membawa istri.
Suasana di lokasi (Septi/detikcom)


"Kan sebenarnya tidak boleh bawa istri. Tapi disiasati jadi pekerja kontraktor. Itu pun harus hati-hati kalau lagi hamil muncul di tengah jalan dan menggangu pekerjaan," terang Nusron.

Nusron menambahkan, jika istri sudah punya kontrak dan diakui kontraktor, para TKI bisa ke Nunukan. Nanti di sana, para TKI dapat mengurus paspor dan bisa bekerja.

"Tapi syarat satu sudah diakui kontraktor. Nanti di sini susah lagi. Tidak boleh jadi gelandangan supaya tidak jadi beban oleh orang lain. Masalah asuransi waktu berangkat bayar asuransi enggak? Diwajibkan asuransi agar ada yang menanggung. Untuk itu lebih enak punya dokumen, dikasih tahu teman-temannya tolong yang belum punya dokumen segera diurus di Nunukan," jawab Nusron. (spt/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads