Sejumlah driver Go-Jek berbincang kepada detikcom, Rabu (23/9/2015). Dini hari, mereka kebetulan sedang berkumpul untuk tabur bunga rekannya yang meninggal karena kecelakaan di Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan.
Dodo, suami 32 tahun dari istri beranak dua ini berbicara sambil berjongkok di atas pagar rumah orang. "Iya betul menurun, sejak dua minggu lalu sudah menurun," kata Dodo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan dua hari ini saya nggak dapat penumpang. Nol sama sekali," kata dia dengan nada serius.
Namun dapur harus tetap mengepul. Dia harus menghidupi anaknya yang berumur delapan tahun dan tiga tahun. Apalagi ini adalah pekerjaan utamanya dan istrinya tak berpenghasilan. Hanya terus berusaha yang dia bisa lakukan.
Dia memperkirakan ada sebab dibalik menurunnya orderan. "Mungkin drivernya sudah banyak, melampaui kuota," kata dia.
Sugeng (30), driver Go-Jek yang lain, menilai sepi order belakangan ini juga karena terlalu banyaknya driver-driver baru. Namun ada sebab lain, yang entah benar entah tidak, dia kemukakan.
"Servernya sering error, katanya error pada jam-jam ramai, jam 16.00 WIB sampai 19.00 WIB," kata Sugeng yang berdiri mengenakan jaket hijau khas Go-Jek.
Sebab lain, menurutnya, banyak masyarakat yang melirik aplikasi ojek berbasis online yang lain. Ini membuat pemasukannya menurun.
"Agak menurun sekitar dua mingguan ini. Tapi kita syukuri saja lah, namanya rezeki," kata Sugeng menghibur diri.
Bila rata-rata dia bisa meraup Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, saat ini dia mengaku hanya meraup Rp 100 ribu, bahkan Rp 70 ribu per hari. Namun ini merupakan pekerjaan utamanya untuk menghidupi anak-anaknya.
"Anak saya tiga, paling besar kelas II SMP, yang paling kecil kelas 3 SD," kata Sugeng yang biasa mangkal di daerah ramai di bilangan Jakarta Selatan ini.
Lain halnya dengan Fajar, pria 21 tahun ini masih lajang sehingga belum punya beban menafkahi anak-istri. Meski begitu, 'ngojek' adalah pekerjaan utamanya.
Sebagai driver Go-Jek, dia merasakan menurunnya orderan mulai sekitar 10 hari lalu. Dia menganalisis, penurunan order ini dimulai sejak promo rush hour diterapkan.
"Sejak promo rush hour, jadi biaya untuk jam sibuk dari jam 16.00 WIB sampai jam 19.00 WIB tarifnya Rp15 ribu untuk 6 kilometer pertama. Setelah itu, dikenakan tarif Rp 2.500 per kilometer," kata Fajar memperkirakan musabab kelesuan order penumpang.
Sebelum promo, Fajar bisa mendapatkan Rp 150 ribu dalam sehari. Kini pendapatannya menurun. Namun dia tidak mengeluh dengan menyebut nominal penurunan dengan nada sedih. Dia memilih menghadapi kesulitan dengan gagah berani.
"Tergantung rajin-tidaknya kita saja," kata Fajar. (dnu/rvk)











































