Dr drh Chusnul Choliq, pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, cara menilai hewan kurban sakit atau tidak sebetulnya tidak terlalu sulit. Kondisi hewan bisa dilihat secara fisik dan klinis.
Untuk kelainan fisik, Chusnul menyarankan agar masyarakat pertama kali melihat bentuk anatomi hewan kurban. Misalnya bentuk kepala atau kaki yang simetris, tidak ada koreng atau buduk atau luka dan bersih tak ada cairan dari lubang tubuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tampilan fisik juga harus ergonomis dan proporsional," terang Chusnul di hadapan puluhan siswa tersebut di kampus IPB, Dermaga, Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/9/2015).
![]() |
Selain kelainan fisik, pembeli hewan kurban juga harus melihat kelainan klinis dari hewan tersebut. Berikut beberapa hal di antaranya:
1. Perilaku tidak menyimpang, nafsu makan dan birahi baik, bergairah dan tampilan umum baik.
2. Tidak menunjukkan perubahan parameter klinis. Suhu tubuh 38,5-40,5 derajat celcius, nafas 12-16 kali, dan nadi normal 40-70 kali per menit. Untuk mengukur nadi bisa dilakukan dengan menyentuh pangkal paha.
Beberapa indikasi hewan kurban yang tidak sehat lainnya adalah masalah pencernaan. Bila kotorannya berbentuk tak wajar, maka harus dicurigai.
"Bisa juga bulu kusam, kulit tidak rata, ada luka. Dada melebar atau menyempit tak simetris," terangnya. (mad/mad)












































