Adalah Farida (38) ibu rumah tangga warga Jl Cipta Karya Panam Pekanbaru yang merasakan betapa asap telah membuatnya tersiksa. Ibu dua orang anak ini, tengah mengandung anak ketiga. Kandungan sudah memasuki 9 bulan.
Selama dua bulan ini, Farida juga terpapar asap. Dia merasakan sejak kabut asap, dirinya merasa mual, pusing, dan kondisi badan lemas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ketika usia kandung masuk 7 bulan, dokter sudah menganjurkan agar sering jalan pagi. Ini untuk memudahkan persalinan kedepannya.
"Bagaimana mau jalan pagi, asapnya saja pekat. Bukan sehat yang didapat, nanti malah penyakit. Sudah dua bulan ini saya terserang batuk, sudah berobat, tapi tak sembuh juga," kata Farida.
(Foto: Chaidir Anwar Tanjung/detikcom) |
Pengakuan yang sama juga diungkapkan Ibu Anis (35) yang masih satu lingkungan dengan Ibu Farida. Ibu Anis ini juga merasakan betapa asap telah membuatnya kelimpungan.
"Saya malah demam tinggi dan sempat mendapat pengobatan dari dokter. Ini karena kondisi tubuh saya lemas karena asap," kata Anis.
Anis mengaku khawatir dampak asap ini terhadap kandungnya. Sebab, dia juga mengetahui lewat media bahwa asap bisa menyerang janin dengan risiko otak mengecil karena kekurangan oksigen dari ibunya.
"Saya selalu berdoa, semoga saja anak dalam kandungan ini sehat walafiat. Saya takut juga," kata Anis lirih.
"Saat asap pekat, terus terang saja, anak dalam kandungan ini selalu kontraksi. Sepertinya anak dalam kandungan ini mengerti kalau saya lagi sesak nafas karena asap," cerita Anis.
Kedua ibu ini mengharapkan, agar persoalan asap segera bisa teratasi. Mereka tak ingin, ketika bayinya lahir, asap masih saja mengepung Pekanbaru.
"Siapapun orangnya, pasti tak mau anaknya lahir di tengah kabut asap. Kita saja sesak dibuat asap, apa lagi bayi," kata keduanya. (cha/try)












































(Foto: Chaidir Anwar Tanjung/detikcom)