Lahir di Cincinnati, Badak Langka Bernama Harapan Akan Kembali ke Sumatera

Lahir di Cincinnati, Badak Langka Bernama Harapan Akan Kembali ke Sumatera

Salmah Muslimah - detikNews
Senin, 21 Sep 2015 14:33 WIB
Lahir di Cincinnati, Badak Langka Bernama Harapan Akan Kembali ke Sumatera
Foto: Kehati/ Badak Sumatera di Way Kambas
Jakarta - Harapan, spesies badak langka dari Sumatera akan kembali pulang ke Indonesia pada Oktober 2015 mendatang. Badak berusia 8 tahun ini lahir pada 2007 lalu di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat.

Dalam keterangan pers yang disampaikan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Senin (21/9/2015), Harapan akanย  menjadi penerus kelestarian badak Sumatera. Dua kakak Harapan, yaitu Andalas dan Suci, yang secara berurutan lahir pada 2001 dan 2004 di kebun binatang yang sama telah lebih dulu kembali ke Suaka Badak Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary/SRS). Andalas sendiri telah memiliki anak hasil perkawinan dengan Ratu bernama Andatu. Sedangkan saudara perempuan Harapan, Suci telah mati.

Harapan,ย  badak yang tahun 2015 ini berumur 8 tahun dalam keadaan tidak fit-yang diduga karena pengaruh makanan yang berbeda dengan di habitat aslinya. Melihat usianya, Harapan sudah masuk dalam kategori matang kelamin dan siap untuk dikawinkan.
Pasangan potensial badak berbulu ini hanya ada di SRS, sebuah fasilitas pengembangbiakan badak semi alami di Taman
Nasional Way Kambas, Lampung. Suaka ini merupakan tempat konservasi yang sesuai habitat aslinya satu-satunya di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suaka ini berupa hutan alam seluas 100 hektar, yang terbagi menjadi 10 petak dan dikelilingi oleh pagar beraliran listrik. Pagar listrik digunakan untuk mengamankan badak di dalam kawasan dan mencegah gangguan satwa liar dari luar. Suaka Rhino Sumatera adalah sebenar-benar harapan bagi Harapan. Lantaran di dalamnya tinggal saudara tua Harapan yaitu Andalas yang tahun 2012 lalu menjadi seorang ayah dari Andatu.

Di tempat itu pula ada tiga betina potensial sebagai pasangan Harapan yang bernama Ratu, Rosa dan Bina. Pada kepulangan yang direncanakan bulan Oktober nanti, Harapan dijadwalkan untuk bertemu trio betina itu.

Saat ini, selain Harapan dan Andalas, ada tujuh badak Sumatera lain yang hidup di penangkaran seluruh dunia. Bila dihitung dengan badak yang hidup di alam liar, populasi spesies itu kurang dari 100 ekor. Harapan masih beruntung mudik dalam keadaan utuh. Kondisinya tak semengenaskan nasib saudara jauhnya dari Afrika Selatan bernama Hope. Pada awal Juni 2015 lalu, Hope ditemukan dalam muka separuh berlubang akibat perburuan untuk diambil culanya. Hope kini sudah dalam penangkaran untuk proses penyembuhan.

Kisah Harapan dan Hope adalah nukilan nasib hewan mamalia yang terancam punah di seluruh dunia. Pada 22 September nanti, para binatang bercula ini akan merayakan hari Badak Internasional yang tahun ini mengambil tema "Five Rhino Species Forever". Tema itu mewakili lima spesies yang Siaran Pers Untuk segera diterbitkan kini masih tersisa di dua benua ini yaitu Afrika dan Asia. Dari Afrika ada Badak Hitam dan Badak Putih. Adapun Asia diwakili oleh Badak Jawa, Badak Sumatra dan Badak India.

Yayasan KEHATI melalui Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera ikut melestarikan keberadaan hewan langka ini dengan bekerja sama bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI).

"Keberlangsungan hidup Badak Sumatra adalah salah satu tanggung jawab kami menjaga keanekaragaman hayati Sumatra ," ujar Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI M.S. Sembiring.

Badak yang bernama latin Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis ini diperkirakan hanya tinggal 100 individu saja dengan sebaran hanya di tiga bentang alam yakni Taman Nasional Way Kambas, Bukit Barisan Selatan dan Gunung Leuser. Populasinya di Taman Nasional Way Kambas diperkirakan 27-30 individu dan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ada sekitar 48-50 individu.

Hal ini senada dengan perkiraan para ahli yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun populasi badak Sumatera yang jumlah individunya dalam satu wilayah jelajah melebihi 75 ekor. ย 

"TFCA-Sumatera melalui mitranya berniat untuk menjadikan sisa populasi badak tersebut dalam kondisi yang dapat melangsungkan hidupnya dalam jangka panjang (viable population)," imbuh Samedi, Direktur Program TFCA-Sumatera. (dra/dra)


Berita Terkait