Soal Kunker dan Tunjangan DPR, Ketua MPR: Jangan Ribut Tak Substantif

Soal Kunker dan Tunjangan DPR, Ketua MPR: Jangan Ribut Tak Substantif

M Iqbal - detikNews
Senin, 21 Sep 2015 12:16 WIB
Soal Kunker dan Tunjangan DPR, Ketua MPR: Jangan Ribut Tak Substantif
Foto: M Iqbal
Jakarta - Kontroversi kunker dan kenaikan tunjangan DPR memang kerap berlarut-larut. Ketua MPR Zulkifli Hasan menyebut kegaduhan itu tidak substansif dibandingkan kepentingan untuk mengembangkan iptek dan sumber daya Indonesia.

"Mari majukan negeri dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, jangan ribut hal yang tidak substansi. DPR tiba-tiba naik gaji (tunjangan -red) bisa berhari-hari, makanya kata Pak Anwar Abbas (Bendum Muhammdiyah -red), udara di sini panas karena tunjangannya tidak naik tapi ributnya bisa setahun," kata Zulkifli Hasan.

Hal itu disampaikan dalam 'Peringatan Hari Perdamaian Dunia dan Deklarasi Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi' di halaman komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Hadir Din Syamsuddin, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurabaya, bendahara PP Muhammadiyah Anwar Abbas, politisi Hajriyanto Tohari, AM Fatwa, Martin Hutabarat dan tokoh-tokoh agama.

Tak hanya soal tunjangan dewan, Zulkifli juga menyinggung soal kunjungan kerja yang menurutnya selalu menjadi isu sensitif dan menuai kegaduhan. Zulkifli yang baru pulang dari Tiongkok mengaku sebetulnya takut dengan kunker.

"Saya ke Tiongkok takut sekali karena baru sekali ke luar negeri. Sudah diundang berkali-kali tapi menolak, akhirnya berangkat. Setelah setahun (jadi ketua MPR), baru pertama ke luar negeri," ucap Zul yang baru tiba dari Tiongkok pukul 09.00 WIB tadi.

Kunjungannya ke Tiongkok untuk sejumlah agenda, di antaranya bertemu PM Tiongkok Le Kiqiang membahas kerja sama bidang maritim, lalu ke perusahaan PowerChina soal pembangunan PLTA dan agenda lainnya.

Dalam kunjungan itu Zulkifli turut mengundang dua media nasional. Dalam satu kesempatan rombongan dijamu di kapal cruise, Zul meminta untuk tidak perlu dipublikasikan karena hal yang tidak substansi itu bisa menjadi masalah besar di tanah air.

"Kalau kita masih seperti itu ribut masalah yang bukan substansi, tentu paling-paling kita andalkan sumber daya alam pada akhirnya," ucap ketua umum PAN itu.

Pernyataan terakhir itu terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tiongkok yang menurutnya saat ini sudah mulai membangun kapal induk. Saat Tiongkok mengeskpor teknologi sementara Indonesia masih andalkan sumber daya alam.

"Bayangkan kalau Tiongkok kasih kita satu pesawat, sekarang mereka sedang buat pesawat seperti Boeing penumpang 300, tukarannya berapa juta ton batu bara. Kita masih bangga eksploitasi kayu, batu bara. Pengusaha-pengusaha kita bangga jual tanah air untuk beli pesawat pribadi," sindir Zul. (bal/tor)


Berita Terkait