ADVERTISEMENT

Belajar Dari Ki Bani, Pilih Memainkan 'Celempung' Daripada Mengemis

Syahdan Alamsyah - detikNews
Minggu, 20 Sep 2015 13:30 WIB
Foto: Syahdan Alamsyah
Sukabumi - Ki Bani 'Celempung' pria asli kelahiran Sukabumi 96 tahun lalu itu lebih memilih untuk melestarikan kesenian Sunda daripada mengemis untuk mengais rezeki, meski ia berjalan sedikit membungkuk karena faktor usia. Setiap hari Ki Bani bisa menempuh jarak belasan kilometer untuk mengamen dan memainkan alat musik khas Sunda 'celempung'.

Celempung adalah sejenis alat musik mirip gendang berbahan bambu yang dimainkan dengan cara dipukul dan dipetik hingga mengeluarkan bunyi khas. 81 tahun lamanya Ki Bani memainkan alat musik itu, lagu yang ia bawakan kerap bernada kocak dan riang.

Ki Bani saat memainkan Celempung


Tak sulit mencari keberadaan Ki Bani. Sore hari ia kerap berkumpul dengan komunitas "Karasukan" sekumpulan anak muda pelestari kesenian Sunda yang berkumpul di sekitaran Lapangan Merdeka Kota Sukabumi. Di sana Ki Bani kerap diminta untuk menularkan keahliannya. Di sana pula Ki Bani memperoleh nama panjang 'Celempung' sesuai alat musik yang ia mainkan.

"Saat itu usia saya masih 15 tahun, nagara (negara) masih belum merdeka saya sudah mulai belajar 'nyelempung' dari bapak. Keadaan saat itu juga belum ramai seperti sekarang, di mana-mana masih banyak 'leweung' (hutan). Tiap anak seumuran saya permainan tradisionalnya banyak. Kebanyakan ke alat musik, ada karinding, calung, kacapi, celempung dan angklung. Karena saat itu masih banyak hutan bambu saya dan temen-temen kebanyakan mainnya kalau nggak karinding ya celempung," tutur Ki Bani mengawali kisahnya kepada detikcom, Minggu (20/9/2015).

Ki Bani saat memainkan celempung


Setiap hari Ki Bani berangkat, dari Kampungnya di Cicadas, Kota Sukabumi. Ia  mengamen di setiap sekolah yang ia lewati selama perjalanan yang ia tempuh dengan berjalan kaki. Bila beruntung dalam sehari Ki Bani paling sedikit mendapat Rp 30 Ribu, dan bila beruntung ia bisa pulang dengan membawa uang Rp 50 ribu.

"Lumayan buat makan sehari-hari, atau kasih jajan cucu dan cicit," imbuhnya. Ia sedikit tertutup ketika ditanyai keluarganya, ia hanya diam seraya tangannya kembali membunyikan celempung yang menurut dia sudah puluhan tahun menemani.

Mengamen diakui Ki Bani bukan satu-satunya tujuan ia berkeliling setiap hari. Kecintaannya kepada kesenian Sunda adalah alasan Ki Bani rajin berjalan kaki setiap hari. Ketika pengamen lain memilih pergi ketika sudah diberi uang, Ki Bani memilih untuk bertahan hingga tembangnya habis. Tembang Sunda favoritnya adalah 'Gado Gado Dina Saron dan Angeun Lompong, lagu itu menurut dia memaknai kehidupan secara lebih luas.

Diakuinya, tak banyak anak muda sekarang yang mencintai kesenian daerah di masa sekarang. "Mau gimana lagi, sekarang anak muda udah melirik sebelah mata kesenian daerahnya. Meski ada beberapa yang bertahan dan membuat komunitas," ujarnya.

Ki Bani saat memainkan celempung


"Pangwangunan (Pembangunan) bagian dari perubahan zaman, baheula leuweng jeung tegalan ayeuna leuwengna ganti ku tembok beton teu bisa di lawan kudu dirojong, (Pembangunan bagian dari perubahan zaman, dulu hutan dan ladang sekarang hutannya ganti sama tembok beton nggak bisa dilawan selain bantu di dorong)," lanjut Ki Bani dengan bahasa dan logat sundanya yang kental.

(jor/jor)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT