"Sekarang orang kalau maju sebagai bupati dan gubernur perlu dukungan pemilik modal karena politik kita masih transaksional. Mana yang kasih sembako uang itu yang kemungkinan menang, yang jual gagasan tanpa didukung pemilik modal malah nggak laku," kata Zulkifli saat berbincang di Hotel Pudong Shangri-La, 33 Fucheng Road, Shanghai, Tiongkok, Minggu (20/9/2015).
"Makanya yang menang itu berutang budi sama pemilik modal, harusnya pro kepada rakyat tapi karena berutang budi kepada pemilik modal akhirnya malah melayani pemilik modal. Nah itu yang harus kita pikirkan jalan keluarnya seperti apa," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara masih (terjadi seperti itu). Yang nggak punya gagasan atau ide asal punya uang masih kuat. Secara umum masih gitu," terang dia.
Sebelumnya, dalam diskusi Polemik Sindrotrijaya Network 'Asap dan Sengsara' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat yang diadakan pada Sabtu (19/9) lalu, Direktur Eksekutif Walhi Abet Nego Tarigan mengatakan politik transaksional telah memperparah kondisi kebakaran hutan. Ini diketahui Abet dari kalangan pengusaha yang enggan disebut namanya.
"Jelang Pilkada, izin melonjak. Kira-kira per seribu hektar, mereka keluarkan satu miliar (rupiah). Itu menggiurkan di tengah demokrasi money politik," kata Abet. (aws/ega)










































