Ini Kata Zulkifli Hasan Soal Maraknya Izin Buka Hutan Jelang Pilkada

Laporan dari Shanghai

Ini Kata Zulkifli Hasan Soal Maraknya Izin Buka Hutan Jelang Pilkada

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Minggu, 20 Sep 2015 09:16 WIB
Ini Kata Zulkifli Hasan Soal Maraknya Izin Buka Hutan Jelang Pilkada
Foto: Lamhot Aritonang
Shanghai - Organisasi Walhi menyebut menjelang diselenggarakannya Pilkada, izin konsesi dan pembukaan lahan menjadi alat 'dagangan' yang berpotensi memicu kebakaran hutan. Mantan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan tidak menampik banyaknya kejadian seperti itu di daerah-daerah.

"Sekarang orang kalau maju sebagai bupati dan gubernur perlu dukungan pemilik modal karena politik kita masih transaksional. Mana yang kasih sembako uang itu yang kemungkinan menang, yang jual gagasan tanpa didukung pemilik modal malah nggak laku," kata Zulkifli saat berbincang di Hotel Pudong Shangri-La, 33 Fucheng Road, Shanghai, Tiongkok, Minggu (20/9/2015).

"Makanya yang menang itu berutang budi sama pemilik modal, harusnya pro kepada rakyat tapi karena berutang budi kepada pemilik modal akhirnya malah melayani pemilik modal. Nah itu yang harus kita pikirkan jalan keluarnya seperti apa," lanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak ayal, di daerah masih sering terjadi politik transaksional seperti itu. Dengan imbalan, apabila dia menang maka akan memberi kemudahan dalam perizinannya untuk pemilik modal.

"Sementara masih (terjadi seperti itu). Yang nggak punya gagasan atau ide asal punya uang masih kuat. Secara umum masih gitu," terang dia.

Sebelumnya, dalam diskusi Polemik Sindrotrijaya Network 'Asap dan Sengsara' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat yang diadakan pada Sabtu (19/9) lalu, Direktur Eksekutif Walhi Abet Nego Tarigan mengatakan politik transaksional telah memperparah kondisi kebakaran hutan. Ini diketahui Abet dari kalangan pengusaha yang enggan disebut namanya.

"Jelang Pilkada, izin melonjak. Kira-kira per seribu hektar, mereka keluarkan satu miliar (rupiah). Itu menggiurkan di tengah demokrasi money politik," kata Abet. (aws/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini