"Kami bersyukur dan terima kasih kepada PowerChina, termasuk saya sebagai menteri kehutanan (periode lalu) yang memberi izin untuk lahannya. Atas kerjasama kedua negara, tentu kami dari parlemen bisa berikan dukungan secara politik. Jadi hubungan kedua negara dekat, terutama di bidang listrik dan infrastruktur yang sedang giat kami laksnakan," ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan yang memimpin rombongan delegasi di Beijing, Tiongkok, Jumat (19/9/2015).
"Apakah pembangunan listrik tenaga air yang banyak di tempat kita, apakah juga listrik yang menggunakan batu bara itu sekarang yang banyak dikembangkan juga infrastruktur lainnya. Kami percaya PowerChina perusahaan terbaik, mudah-mudahan kerjasama kita terus berlanjut lebih banyak lagi, lebih baik lagi," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PowerChina juga akan membangun pusat listrik tenaga air 110 mega watt (MW) di Jatigede yang ditargetkan selesai pada tahun 2019 mendatang. Proyek lain di Indonesia yang sudah beroperasi saat ini antara lain PLTU Nagan Raya di Aceh.
Mendengar pernyataan Zulkifli itu pun, PowerChina Member of the Board sekaligus CPC Party Secretary Ma Zonglin menyampaikan harapannya untuk dapat terus menjalin kerjasama pembangunan dengan Indonesia.
"Kami memiliki cukup pengalaman pembangunan tenaga listrik air, banyak di Tiongkok yang sudah lebih dari 1.000-2.000 tahun tapi sekarang masih berfungsi. Di sini saya berkomitmen kepada ketua MPR, proyek yang dilakukan kami secara serius dan sungguh-sungguh dari perencanaan dan pembangunan untuk turun temurun," terang Za.
Rombongan DPR yang ikut berkunjung dalam kesempatan itu antara lain Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ketua Fraksi Golkar MPR Rambe Kamarul Zaman, Ketua Fraksi PDIP MPR Achmad Basarah, Ketua Fraksi PKS MPR TB Soenmandjaja, Ketua Fraksi Hanura MPR Sarifuddin Sudding, Sekretaris Jenderal MPR Eddie Siregar dan Presdir Maspion Group Alim Markus.
Dalam sesi tanya jawab, Hidayat sempat mempertanyakan komposisi tenaga kerja pribumi dalam setiap proyek pembangunan PowerChina di Indonesia. Sebab menurutnya, tenaga kerja pribumi penting untuk mengelola asetnya sendiri dalam jangka panjang.
"Dalam proses pembangunan, kita juga giat memberikan latihan kepada tenaga kerja lokal supaya bisa melakukan pembangunan bersama. Teknologi kami terbuka. Itu juga termasuk dialihkan kepada perusahaan lokal di Indonesia. Ini adalah keputusan kita yang bertanggungjawab," kata Za menjawab pertanyaan Hidayat.
Terlihat puas dengan jawaban itu, Zulkifli pun melanjutkan harapannya agar kerjasama kedua negara tetap terjalin dengan baik terutama dalam pembangunan energi dan listrik. Zul menilai perusahaan PowerChina sudah teruji kualitasnya, tidak hanya di Tiongkok tetapi juga di dunia.
Bahkan proyek pembangunan Waduk Jatigede yang memakan waktu lama hingga pergantian 3 presiden, dia menjadi salah satu orang yang memberikan izin saat masih menjabat sebagai Menteri Kehutanan. "PowerChina sudah mampu melaksanakan proyek Jatigede, saya yakin mampu laksanakan proyek lain di Indonesia karena Jatigede paling sulit. Lainnya tentu akan lebih mudah," pungkasnya.
Sekadar informasi, PowerChina merupakan perusahaan multinasional yang berpusat di Beijing, Tiongkok. Perusahaan ini menyediakan layanan one-stop service mulai dari perencanaan, investigasi, enginering dan biaya desain, konstruksi, pengoperasian di bidang energi dan infrastruktur.
Pendapatan bisnis perusahaan tersebut tahun lalu mencapai 42,4 miliar USD. Di akhir 2014, total aset perusahaan mencapai 66,6 miliar dengan berada di peringkat 313 dari 500 perusahaan terbaik versi Fortune Global di dunia.
Perusahaan BUMN ini juga merupakan pembangun konstruksi Beijing-Shanghai High Speed Railway di Tiongkok, Doha New International Airport Airbus 380 Runway Pavement di Qatar, jalan Emali-Oloitokitok di Kenya, Guangzhou Subway Station di Tiongkok dan Tianjin Subway Station di Tiongkok. (aws/slm)











































