Sedianya, pertemuan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2015). Sejak pukul 09.30 WIB, puluhan ibu-ibu berpakaian seragam batik kombinasi biru dan putih sudah antre untuk masuk ke dalam Istana Negara.
Para ibu-ibu pengusaha dari berbagai wilayah Indonesia ini kemudian dipersilakan masuk ke dalam Istana Negara. Namun setelah menunggu, dikabarkan Presiden tidak jadi melakukan pertemuan tersebut. Kehadiran Presiden Jokowi digantikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah jauh-jauh dari Kalimantan Barat, sudah beli tiket, ternyata batal. Ya kecewa lah. Padahal tadi di dalam, di layarnya sudah dituliskan pertemuan Presiden dengan Iwapi," kata salah seorang wanita pengusaha.
Namun, sebelum pulang, sebagian ibu-ibu ini memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama di sekitar Istana Kepresidenan.
Sementara itu, Ketua Umum Iwapi Nita Yudi mengatakan, kehadiran mereka bertemu Jokowi ini untuk menyampaikan beberapa masalah dan masukan bagi pemerintah.
"Yang jelas, kami sudah diterima di Istana. Kami sampaikan hasil Munas Iwapi, dan rekomendasi ke pemerintah. Sejak 48 tahun lalu, sekarang ada 30 ribu perempuan pengusaha. 80 persen itu pengusaha kecil dan mikro, yang jadi tulang punggung. Ini usaha yang tidak melibatkan dolar, yang bahan bakunya tidak impor," jelas Nita Yudi.
Dikatakan Nita, dalam rencana pertemuan itu pihaknya juga ingin menyampaikan secara langsung mengenai dampak kebijakan paket ekonomi yang baru dikeluarkan pemerintah pada 9 September lalu.
"Kami ingin sampaikan ke presiden, paket kebijakan kemarin masih melihat untuk sektor makro, sektor riil masih belum ada. Jadi masih perlu ada paket kebijakan ekonomi kedua, khusus untuk UMKM. Karena kita hadapi, Masyarakat Ekonomi Asean, perlambatan ekonomi, tentu perlu kebijakan yang lebih baik lagi untuk perempuan pengusaha," kata Nita.
"Banyak kebijakan pemerintah yang di lapangan itu kurang berjalan dengan baik. Kita perlu ngadu ke presiden, bahwa di bawahnya seperti apa. Karena kami pelaku ekonomi yang memang ada di lapangan," tambahnya.
Meski kecewa, Nita mengaku bisa menerima alasan ketidakhadiran Presiden Jokowi untuk bertemu dengan Iwapi. Dia memaklumi ada tugas yang lebih penting yang harus dilakukan Presiden.
"Kami terima kasih kepada Pak Presiden sudah menerima kami. Ada yang kecewa, tapi presiden harus urus yang lebih besar. Karena Bank Federal tidak jadi naikkan suku bunga. Jadi menciptakan hal tidak kondusif. Beliau rapat mendadak," kata Nita.
Nita juga mengaku akan diadakan penjadwalan ulang pertemuan Presiden Jokowi dengan Iwapi. (jor/spt)











































