Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Gerindra Asril Hamzah Tandjung usai rapat pleno Komisi I di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2015) menyatakan beragam catatan-catatan Komisi I soal 33 nama calon duta besar.
"Ada yang layak dengan catatan. Misalnya ada mantan TNI, intelijen BIN, kenapa di Panama? Kenapa tidak ditempatkan sebagai Dubes di Iraq?" kata Asril.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar calon dubes dinyatakannya diterima. Namun demikian, dia menyatakan, pandangan ini belum final sebelum diserahkan ke Presiden Jokowi pada Senin (21/9) depan.
Anggota Komisi I dari Fraksi Gerindra Rachel Maryam menyatakan ada satu calon duta besar yang tidak layak, dan lima yang layak dengan catatan.
"Ada yang perlu diberikan penambahan kapasitas, karena kami lihat komunikasinya buruk, diplomasinya kurang baik. Ada juga yang penempatan negaranya yang kurang pas. Ada juga yang kurangnya wawasan negara tujuan," kata Rachel.
Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi Partai Golkar Tantowi Yahya menyatakan tak mempermasalahkan latar belakang partai politik calon dubes yang bersangkutan. Sebagaimana diketahui, ada calon dubes yang berlatar belakang partai politik PPP, PDIP, dan Hanura.
"Kita tidak mempermasalahkan soal asal mereka dari mana," kata Tantowi.
Berikut 33 nama calon dubes baru yang diusulkan Jokowi ke DPR:
1. Hasan Bagis, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
2. Safira Machrusah, Alffer, Aljazira
3. Bambang Antarikso, Baghdad, Irak
4. Husnan Bey Fananie, Baku, Azerbaijan
5. Ahmad Rusdi, Bangkok, Thailand
6. Yuri Octavian Thamrin, Brussel, Belgia dan merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa
7. Helmy Fauzi, Kairo, Mesir
8. Mayjen TNI (Purn) Mochammad Luthfie Wittoeng, Caracas, Venezuela
9. Mansyur Pangeran, Dakar, Senegal
10. I Gusti Agung Wesaka Puja, Den Haag, Belanda merangkap OPCW
11. Marsekal Madya TNI (Purn) Muhammad Basri Sidehabi, Doha, Qatar
12. Ibnu Hadi, Hanoi, Viietnam
13. Alfred Tanduk Palembangan, Havana, Kuba
14. Wiwiek Setyawati Firman, Helsinski, Finlandia
15. Iwan Suyudhie Amri, Islamabad, Pakistan
16. Muhammad Ibnu Said, Kopenhagen, Denmark
17. Rizal Sukma, London untuk Inggris dan Irlandia
18. Tito Dos Santos Baptista, Maputo, Mozambique
19. Mohammad Wahid Supriyadi, Moscow, Rusia
20. Musthofa Taufik Abdul Latif, Muscat, Oman
21. R Soehardjono Sastromihardjo, Nairobi, Kenya
22. Marsekal Madya TNI (Purn) Budhy Santoso, Panama City, Panama
23. Dian Triansyah Djani, New York untuk utusan tetap PBB
24. Diennaryati Tjokrisuprihatono, Quito, Ekuador
25. Agus Maftuh Abegebriel, Riyadh, Arab Saudi
26. Amelia Achmad Yani, Sarajevo, Bosnia-Herzegovina
27. I Gede Ngurah Swajaya, Singapura
28. Sri Astarai Rasjid, Sofia, Bulgaria
29. R Bagas Hapsoro, Stockholm, Swedia
30. Octaviano Alimudin, Tehran, Iran
31. Antonius Agus Sriyono, Vatican
32. Eddy Basuki, Windhoek, Namibia
33. Alexander Litaay, Zagreb, Kroasia
(dnu/fdn)











































