Melihat Teraturnya Transportasi di Ibu Kota Tiongkok

Laporan dari Beijing

Melihat Teraturnya Transportasi di Ibu Kota Tiongkok

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Kamis, 17 Sep 2015 20:58 WIB
Melihat Teraturnya Transportasi di Ibu Kota Tiongkok
Foto: Ayunda/detikcom
Beijing - Kota Beijing menjadi salah satu kota metropolitan yang maju di Tiongkok. Meski banyak bangunan pencakar langit di sepanjang jalan raya, namun tidak sedikit juga bangunan tradisional yang berdiri di antaranya.

Ruas jalan di Ibu Kota Tiongkok ini juga terbilang luas, terdiri dari 3 jalur. Pemandangan seperti ini terlihat mirip sepanjang kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Pantauan detikcom pada Kamis (17/9/2015) ruas jalan yang luas tetap diatur agar terlihat lengang. Di mana, bus berada di lajur kanan jalan dengan tertib kemudian kendaraan pribadi dan taksi berada di lajur tengah dan kiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bus yang ada di Beijing ini kebanyakan berupa bus gandeng (integrated bus) seperti bus TransJakarta yang beroperasi di koridor I Ibu Kota. Ada juga beberapa bus tingkat (double decker) yang lalu lalang. Bus-bus itu berhenti tepat di halte secara teratur.

"Bus di sini berada di lajur kanan dari pukul 07.00-09.00 dan 16.00-18.00. Mereka lebih takut ke-capture kamera dibanding polisi lalu lintas di sini karena bisa jadi susah kalau mau ngurus perpanjang STNK jika ditunjukkan bukti melanggar dari foto kamera," ujar Konselor Sosial dan Budaya KBRI Santo Darmosumarto saat berbincang di kantornya, Jl Dongzhimenwai Daijei, Chaoyang District Beijing, Tiongkok, Kamis (17/9/2015).

Foto: Ayunda/detikcom


"Beijing sedang mau menambah jumlah kamera CCTV. Saya nggak tahu persis jumlahnya berapa, tapi kota ini ingin mencontoh London yang banyak kamera CCTV di sudut-sudut jalan," lanjutnya.

Tampak juga banyak kendaraan roda dua dan sepeda listrik di lajur kanan jalan. Para pengendara motor diwajibkan pakai helm, namun pengendara sepeda listrik tidak diwajibkan menggunakan helm walaupun kecepatannya bisa mencapai 30-50 kilometer per jam.

Meski di jam-jam tertentu kemacetan terlihat di jalur protokol, namun tidak terdengar perang suara klakson. Sejumlah polisi lalu lintas juga terlihat melakukan pengamanan dan mengurai kemacetan di jalanan.

Puncak kemacetan umumnya terjadi pada pagi dan sore hari saat jam bubar kantor. Tidak ada pedagang kaki lima (PKL) ataupun motor yang parkir di bahu jalan dekat kawasan wisata pusat kota, seperti kawasan Forbidden City.

Banyak orang atau wisatawan mengantre panjang, tetapi tidak ada satupun PKL berjualan secara bergerombolan. "PKL di sini dilarang kecuali di tempat-tempat tertentu. Mereka diizinkan di kawasan perumahan," jelasnya.

Menariknya lagi, saat malam hari ada sejumlah truk dari Dinas Kebersihan 'mencuci' jalanan Ibu Kota. Tidak hanya membersihkan sampah-sampah dan menyiram jalanan, truk-truk itu juga menyapu dan 'mencuci' jalan dengan sikat berputar.

"Mereka sangat menjaga mukanya. Awal mereka menjadi poin memperbaiki diri ketika mereka mendapatkan 'award' jadi tuan rumah Olimpiade 2008. Besar anggaran dari pemdanya," terang Santo.

Menurut dia, Kota Beijing juga beberapa kali direndam banjir apabila diguyur hujan seharian. Namun air yang menggenangi jalanan itu tidak lama, sekitar 2-3 jam saja.

Untuk mengatasi polusi, pemerintah Tiongkok membatasi jumlah peredaran STNK. Selain itu juga memindahkan kawasan industri ke luar Kota Beijing, sehingga bisa mengurangi jumlah polusi.

"Iklimnya di sini nggak lembab, tapi juga nggak kering. Sekarang nggak ada pabrik-pabrik dipindahkan ke luar Beijing dan mengurangi motor supaya nggak polusi," tutupnya. (aws/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads