"Ada persoalan-persoalan intern di Korps Marinir, yaitu masalah lahan, lahan latihan yang di sana ada masyarakat yang mengklaim bahkan ada yang menggarap (lahan) disana," kata Buyung.
Buyung menyampaikan itu usai menggelar pertemuan di Menteri Ferry Mursyidan Baldan di Kantor Kementerian ATR/BPN di Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah sejak lama ya, memang kita ingin masalah ini selesai sehingga lahan-lahan kita itu bisa kita maksimalkan untuk kegiatan-kegiatan latihan," ujarnya.
"Kita memang memerlukan daerah itu untuk pembentukan prajurit, di samping itu kita juga perlu untuk latihan penembakan senjata perbantuan dan ini sangat riskan sekali apabila dihuni oleh warga yang ada di sana, karena lintasan peluru itu sangat berbahaya sekali," sambungnya.
Menurut Buyung, ukuran tanah-tanah itu cukup luas. Seperti di Purboyo, luas tanah mencapai 4.700 hentar. 227 hentar di antaranya telah tersertifikat. Sedangkan di wilayah Pasuruan terdapat 9.000 kepala keluarga (KK) yang menghuni tanah area latihan Marinir tersebut.
"Kalau di pasuruan itu ada 9.000 KK, Pasuruan Grati. Memang dulu pernah terjadi konflik ya dengan masyarakat di sana. Pada prajurit saya selalu membekali bahwa kita tidak menghendaki lagi peristiwa Alas Telogo kedua," ujarnya.
"Kita ingin diselesaikan secara baik-baik ya karena itu haknya TNI dalam hal ini Korps Marinir untuk menggunakan daerah itu sebagai daerah latihan," tambahnya.
Sementara itu, Menteri ATR/BPN Ferry Mursyidan Baldan mengatakan akan membentuk Tim bersama antara Kementerian ATR/BPN dengan Korps Marinir guna menyelesaikan permasalahan tersebut.
"Makanya saya katakan bahwa mari kita bikin tim bersama, kita coba selesaikan masalah-masalah yang tadi disampaikan. Saya katakan supaya kita punya target waktunya, setahun lah paling lambat kita bisa menyelesaikan ini. Lebih cepat tentu lebih baik," kata Ferry dalam kesempatan yang sama.
Setelah Tim terbentuk, Ferry menjelaskan, pihaknya akan meninjau dan turun bersama ke lokasi untuk melihat dan mengidentifikasi secara langsung bagaimana permasalahan yang ada. Dengan begitu akan dapat diambil bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya.
"Soal jalan keluarnya nanti berbagai hal. Tapi yang pasti kita memastikan kalau itu tempat latihan, ya kita akan lihat, jangan sampai nanti tempat latihan jadi tempat mengancam kehidupan masyarakat di sana," papar Ferry.
"Sementara masyarakat disana (bilang) 'saya kan hidup di sini, itu seni kita untuk melihat masing-masing dalam posisi tidak ada yang harus disalahkan, tidak ada yang dikalahkan dan tidak ada yang dimenangkan," pungkasnya. (idh/hri)











































