Sudah berjalan dua bulan, langit Riau tak pernah biru karena terselimuti asap. Warga Pekanbaru terpaksa menggunakan masker di luar ruangan.
Pasrah dengan keadaan. Begitulah agaknya nasib jutaan rakyat di Sumatera terpapar asap. Tak luput juga Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau yang sudah 18 tahun berturut-turut terkepung asap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi yang sadar akan kesehatan, memang di luar ruangan menggunakan masker. Namun demikian, sebagian lagi warga juga jenuh menggunakan masker.
Pantauan detikcom di Pasar Arengka, Jl Soekarno Hatta, aktivitas warga terlihat menggunakan masker. Para pedagang kaki lima yang berjualan sebagian menggunakan masker tapi tetap saja sebagian besar malas menggunakannya.
![]() |
Semua warga mengakui sejak kabut asap melanda, kepala mereka selalu pusing. Kondisi badan terasa lemas.
"Saban hari badan ini terasa capek, kepala pusing. Kadang kalau sudah pusing rasanya perut ini mual," kata Ujang (35) pedagang kaki lima di kawasan pasar Arengka.
Siang hari, asap bukannya berkurang, namun semakin pesat. Kantor Gubernur Riau hilang ditelan asap. Kantor yang berada di Jl Sudirman, Pekanbaru itu tak kelihatan jika dilihat dari jarak 500 meter.
Tak hanya kantor Gubernur Riau, gedung 9 lantai yang jadi kantor berbagai satuan kerja itu juga hilang ditelan asap.
![]() |
Kota Pekanbaru memang saat ini disesaki asap. Kebakaran lahan di Sumatera belum juga bisa terselesaikan secara baik.
Pemprov Riau sendiri sudah menetapkan situasi ini menjadi darurat pencemaran udara. Riau memang berkurang jauh titik api, hanya saja Provinsi Sumsel dan Jambi api masih membara. Arah angin dari timur ke utara, membuat Riau terkurung asap. Malah asap juga sudah mengepung negara tetangga, Malaysia dan Singapura. (cha/try)













































