Saat Suara Para Peneliti Soal Kebakaran Hutan Tak Didengar

Saat Suara Para Peneliti Soal Kebakaran Hutan Tak Didengar

Ahmad Masaul Khoiri - detikNews
Kamis, 17 Sep 2015 14:23 WIB
Saat Suara Para Peneliti Soal Kebakaran Hutan Tak Didengar
Kebakaran hutan di Kalbar (Foto: Adi Putro/detikcom)
Jakarta - Para peneliti di LIPI sudah bekerja keras untuk meneliti masalah kebakaran hutan. Namun ternyata penelitian itu seakan tak dianggap. Kenapa?

"(Sudah) menyerahkan hasil penelitian ke Bappenas tetapi tidak ada koordinasi lebih lanjut," kata peneliti LIPI Prof Dr Tukirin di acara "Paparan Hasil Penelitian Kebakaran Hutan di Indonesia" di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Kamis (17/9/2015).

Selain itu, Tukirin menyebut dana penelitian di Indonesia  adalah yang terendah se-ASEAN. Hal itu karena peneliti dan pemerintah jalan sendiri-sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peneliti dan pemerintah jalan sendiri karena ada pengaruh politik dalam kebijakan pemerintah," katanya.

Tukirin mengungkapkan LIPI sudah melakukan penelitian sejak 1982 dan sudah meluncurkan bio diversity yang bisa dijadikan dasar kebijakan pemerintahan dan pertimbangan ilmiah.  Dari hasil penelitian dikatakan asap timbul akibat pembakaran yang tidak sempurna. Misalnya saja kebakaran di lahan gambut. Jika lahan itu terbakar pasti akan mengeluarkan asap yang pekat karena gambut merupakan tanaman yang tumbuh di daerah basah.

"Karena gambut belum kering timbulah asap tebal. Kebakaran sih di dalam tidak di atas gambut, sehingga sulit dipadamkan," kata Tukirin.

Hutan dan lahan yang terbakar itu akan sulit untuk direstorasi atau dipulihkan."Lahan gambut tidak akan bisa kembali jika sudah terbakar habis. Semua ekosistem akan mati. Betapa sulit membangun hutan baru. Kalau sudah terbakar habis akan ditempati ekosistem baru," ucap Tukirin.

Tukirin mengungkapkan banyak penelitian mencatat bagaimana proses clearing tanpa membakar. Biasanya dilakukan oleh perusahaan (Hutan Tanaman Industri (HTI), mereka membersihkan hutan tanpa dibakar. Sementera untuk perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit biasanya selalu membakar hutan.

"Umumnya HTI tak bakar, kalau kelapa sawit biasanya dibakar. Perlu pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak membakar," katanya.

Penelitian  soal kebakaran hutan oleh LIPI sebenarnya sudah cukup lama sejak 1982. Tiga bulan LIPI menginventarisasi kebakaran ringan hingga berat. Kebakaran ringan menghabiskan rantingnya, kebakaran sedang menghabiskan semaknya dan kebakaran berat 80%nya menghabiskan kanopi hutan.

Penyebab kebakaran hutan ini ada yakni pembukaan lahan pengembangan perkebunan dan hutan tanaman, perambahan hutan untuk lahan garapan, pembakaran hutan untuk mempermudah berburu, pembakaran untuk pembinaan areal pengembalaan, pembakaran untuk pemungutan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu), dan kecorobohan saat beraktivitas di hutan.

"Kita itu baru ribut kalau ada komplain dari sana sini. Kawasan di Indonesia itu sebagian besar memiliki iklim basah karena Indonesia merupakan negara tropik. Curah hujannya lebih dari 2.000 mm3 per tahun sehingga memiliki tutupan hutan dengan karakteristik hutan hujan tropik. Dan pada dasarnya, ekosistem hutan tropik tidak bisa terbakar baik secara alami sekalipun pada daerah yang iklimnya kering. Setelah kebakaran, beberapa tumbuhan pionir dan sekunder muncul seperti kelompok mahang, anggrung, tembalik angin, dan tumbuhan paku. Namun tak ada tumbuhan berbunga yang mampu bertahan dan tumbuh setelah kebakaran. Mustinya kalau sudah masuk ke musim kemarau, pemerintah musti woro-woro ke masyarakatnya. Jangan tunggu protes dari tetangga," imbuh dia.

Di kesempatan yang sama, Prof Herman Hidayat mengatakan kebakaran lahan dan hutan hingga menyebabkan kabut asap ini merupakan kejahatan ekonomi, ekologi dan sosial. Selain itu dampaknya juga bisa berpengaruh pada perubahahan iklim.

"(Efeknya bisa) terjadi penurunan perubahan suhu ekstrim seperti di gurun, banjir dan kekeringan dahsyat seperti di gurun arab," ucapnya.


(slm/mad)


Berita Terkait