"Ya itu kan dari hasil penyelidikan kita memang itu dilakukan oleh kelompok Santoso," kata Badrodin saat dihubungi wartawan, Kamis (17/9/2015).
Sebab menurut Badrodin, kelompok teroris itu mulai menebar ancaman setelah terjadi kontak senjata dengan petugas Tim Densus 88 Anti teror bulan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak peristiwa itu, lanjut Badrodin, kelompok Santoso melakukan aksi balas dendam dengan siapa saja yang ada di daerah itu termasuk warga sipil.
"Karena itu juga (mereka) membuat teror kepada masyarakat setempat," tuturnya.
Badrodin menegaskan, polisi masih memburu kelompok Santoso tersebut. Masyarakat juga diimbau untuk hati-hati dan waspada dengan kelompok Santoso.
"Kami sudah meminta untuk mengamankan seluruh warga yang ada di kebun-kebun, yang ada di ruas-ruas kali. Menjaga satu persatu ya tentu nggak bisa," papar Badrodin lebih jauh saat ditanya bagaimana langkah kepolisian agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Pembunuhan terhadap dua warga itu terjadi di dua desa berbeda. Kejadian pertama terjadi di Dusun Baturiti, Desa Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong pada Minggu (13/9). Korban yang dibunuh orang bersenjata bernama I Nyoman Astika (70 tahun) yang merupakan transmigran dari Bali.
"Menurut saksi, ada 5 orang bersenjata. Istri korban saat itu nggak keluar dari pondok, tapi suaminya ditarik dan dipenggal lehernya," kata Kapolda Sulteng Brigjen Idham Azis.
Kejadian kedua terjadi pukul 10.00 WITA pagi tadi di Desa Torue, Parigi Moutong. Satu orang warga bernama Hengky (50), menurut Idham, tewas dibunuh kelompok yang diyakini sama.
"Pondok korban dibakar. Ada saksi melihat, korban ini sudah dibunuh dengan cara yang sama," sambungnya. (idh/dra)











































