Tolerir 10%
YLKI Menolak Jika BBM Naik 30%
Senin, 28 Feb 2005 15:03 WIB
Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mentolerir jika kisaran kenaikan BBM hanya 10% per komoditas dari harga semula. Bila kenaikan mencapai 30%, YLKI menolak"Semula YLKI memberikan 'lampu hijau' terhadap rencana kenaikan tersebut. Namun ketika pemerintah menetapkan kenaikan harga BBM sebesar 30% dan apalagi tidak dibarengi dengan kebijakan penanggulangan pasca kenaikan yang meyakinkan dan komprehensif,maka YLKI menolak putusan kenaikan tersebut," tandas Ketua Pengurus Harian YLKI Indah Suksmaningsih dalam rilisnya pada detikcom, Senin (28/2/2005).Alasannya jelas, kata Indah, jika kenaikan 30% maka dampak psikologis terlalu besar dan potensi pemerintah tidak mampu membendung dampak tersebut sangat besar. "Terbukti saat ini ketika harga sembako naik, sementara BBM belum dinaikkan, pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa," kritik Indah. Mengutip analisis ekonom Dr Imam Sugema (INDEF) bahwa jika kenaikan BBM sebesar 30% akan menimbulkan dampak inflasi langsung sebesar 1,9% dan dampak infalsi tidak langsung 2,4% (total 4,3%). Dengan fenomena demikian, masyarakat tidak akan mampu menanggung beban ganda dampak kenaikan BBM, apalagi tidak ada kenaikan income. Indah mencontohkan survei YLKI pada November 2004 saat pemerintah menaikkan harga LPG. Pengeluaran rumah tangga di Jakarta langsung melonjak 10%. "Bayangkan berapa persen lagi pengeluaran rumah tangga akan bertambah, jika kenaikan harga BBM mencapai 30%. Itu baru kenaikan harga BBM, belum lagi jika ada kenaikan tarif transportasi dan tarif dasar listrik," gugat Indah.Selain itu, hingga detik ini pemerintah tidak berhasil meyakinkan publik bagaimana mengatasi potensi kebocoran dana ompensasi yang diberikan sebesar Rp 17,8 triliun. YLKI juga mencurigai pemerintah SBY belum memiliki konsep baru, konsep yang dipakai masih buatan era Megawati.YLKI juga mengkritik buruknya politik dan komunikasi pemerintah terhadap model sosialisasi yang digunakan , yang hanya terfokus pada iklan di televisi dan media cetak.
(nrl/)











































