Anggota Komisi I dari Fraksi PPP Ahmad Dimyati mengatakan kemampuan lobi diplomatik masih jadi catatan untuk sebagian calon dubes. Menurutnya, kecakapan lobi komunikasi ini yang punya peran penting.
"Memang bagus-bagus. Cuma ada yang lucu, perlu dipoles lagilah beberapa. Itu yang maksudnya lobi diutamakan sebagai kemampuan yang utama," ujar Dimyati di sela uji kelayakan dan kapatutan di Nusantara II, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Arab itu kan persoalannya memang beragam. Nah, itu yang kemarin dilihat, bagaimana pertanyaannya. Kemampuan Anda lobi bagaimana? Kalau Inggris, Eropa kan penting karena bisa saja menarik investor agar bisa ke Indonesia. Hubungan bilateral ini yang perlu dijaga, pertahankan," tuturnya.
Lantas, calon dubes mana yang perlu dipoles?
"Masih ada beberapa. Tapi, jangan lah (disebut). Kita lihat besok bagaimana, kan besok Komisi I pleno," tuturnya.
Kemudian, Dimyati juga menyoroti kesesuaian calon dubes dengan negara yang akan ditempati apakah sudah cocok atau belum. Pasalnya, Komisi I masih melihat ada beberapa calon dubes yang kurang tepat penempatannya.
"Yah, mau bagaimana lagi. Ini kan hak prerogatif presiden yang nentuin. Kami hanya menilai dan berikan catatan. Kami ingin calon dubes tak kaku, kemampuan lobi kurang, tapi tetap ditunjuk jadi calon dubes," ujarnya.
Hal senada dikatakan, anggota Komisi I DPR dari fraksi PDIP TB Hasanudin. Menurutnya, latar belakang dari karir atau non karir tak menjadi masalah namun harus punya kemampuan yang menunjang.
"Non karir sekitar 12 calon dubes. Saya tak peduli karir atau non karir. Yang penting punya kompetensi cukup untuk melaksanakan tugas. Karir kalau juga enggak punya kemampuan untuk apa? Rugi negara. Secara umum masih ada 1-2 calon dubes yang perlu dipoles," sebut TB Hasanudin. (hty/erd)











































