Namun saat Pemilihan Umum 2014 lalu, PKS menggunakan jargon 'cinta, kerja dan harmoni'. Pengamat politik dari Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan perubahan jargon ini menjadi strategi jitu PKS.
Sejak awal berdiri, kata Qodari, PKS terkenal dengan jargon bersih dan peduli. Jargon ini meski bukan yang utama, tapi menjadi salah satu penopang perolehan suara partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun 2012 hingga 2014 memang menjadi masa terberat bagi PKS. Saat itu Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. "Peristiwa ini (tertangkapnya Luthfi) membuat slogan bersih itu runtuh, jadi boro-boro menjual. Kalau PKS nekat menggunakan slogan itu bisa kebanting perolehan suaranya," kata Qodari.
Langkah PKS yang kemudian mengganti jargon dari 'bersih, peduli dan profesional' menjadi 'cinta, kerja dan harmoni' dinilai tepat. Meski didera isu korupsi yang menjerat bekas petingginya, perolehan suara PKS pada Pemilu 2014 lalu tak terlalu merosot tajam dibanding lima tahun sebelumnya. PKS pun selamat dari keterpurukan perolehan suara.
Pada Pemilu 2009 PKS mendapatkan perolehan suara sebesar 7,88 persen dan menduduki peringkat ke-4 setelah Demokrat, Golkar dan PDIP. Sementara pada Pemilu 2014, PKS mendapatkan 6,79 suara dan menduduki peringkat ke-7.
"Menurut saya strategi mengangkat slogan 'cinta, kerja dan harmoni' itu cukup berhasil. Jadi (perolehan suaranya) turunnya tidak begitu telak," kata Qodari.
Menurut Qodari, saat ini adalah waktu yang tepat bagi PKS kembali menggunakan jargon bersih dan peduli. Memang ada saalah satu kader PKS yakni Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho harus menghadapi dugaan kasus korupsi di KPK. Namun dia bukan tokoh sentral di PKS, beda dengan Luthfi Hasan Ishaaq.
(erd/nrl)










































