Success Story 'Perang' Melawan Virus Pembunuh Ribuan Unggas di Semarang

Success Story 'Perang' Melawan Virus Pembunuh Ribuan Unggas di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 15 Sep 2015 19:16 WIB
Success Story Perang Melawan Virus Pembunuh Ribuan Unggas di Semarang
Foto: REUTERS/Stringer
Semarang - Virus flu burung sempat menghebohkan ketika mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2003 lalu tidak terkecuali di Kabupaten Semarang yang menyebabkan ribuan unggas mati. Sejak saat itu berbagai usaha dilakukan berbagai upaya dibantu beberapa pihak untuk mencegah virus tersebut dan hasilnya tahun 2015 ini belum ada laporan masuk yang menyatakan ada unggas yang terjangkit flu burung.

Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang, drh Sri Hartiyani, mengatakan akhir tahun 2003 lalu terjadi puluhan kasus flu burung di Kabupaten Semarang.

"Kasus tertinggi ya tahun 2003. Pas itu saya yang tangani, 2003 itu hampir semua habis, 20 kasus lebih," kata Sri Hartiyani di kantornya saat sharing dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan perwakilan Kementerian Pertanian, Selasa (15/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kasus Avian Influenza di 2003 tidak hanya menyerang di perunggasan sektor 4, yang dipelihara tradisional di pekarangan, tapi juga menyerang ayam petelor kami dan jumlahnya lumayan tinggi. Dulu belum tahu itu virus flu burung," terang perempuan yang akrab dipanggil Yani itu.

Dinas Peternakan dan Perikanan kemudian mengajukan usulan anggaran APBD untuk mengatasi Avian Influenza. Kucuran dana kompensasi pun diberikan kepada peternak. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena dinilai membuat ketergantungan dan peternak tidak mandiri.

"Dari APBD juga diusulkan anggaran untuk kompensasi, tapi lama-lama berhenti karena terlalu 'meninabobokan'. Dengan APBD 1 (Provinsi Jateng) dan 2 (Kabupaten Semarang), kami adakan kegiatan lain karena vaksin belum ada. Jadi ada gerakan tumpas AI (Avian Influenza). Lakukan disinfeksi ke seluruhnya, petugas penyuluh digerakkan," terangnya.

Tahun 2006 dilakukan kerjasama dengan Kementerian Pertanian RI dan FAO untuk melakukan program pengendalian Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) di tingkat desa, industri unggas, dan sepanjang rantai pasar unggas.

Kerjasama pengendalian HPAI pada unggas pekarangan atau sektor 4 dilakukan dengan membangun kesadaran masyarakat dan pengetahuan mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit dan pemeliharaan unggas yang benar.

"Sejak saat itu kami di Kabupaten Semarang, terbentuklah untuk penanganan kasus AI di sektor 4. Untuk sektor 3, 2, dan 1 rata-rata sudah menerapkan bio security dengan baik," terang Yani.

Kemudian untuk penanggulangan HPAI di peternakan komersil atau sektor 3, dilakukan program Pelayanan Veteriner Unggas Komersial (PVUK).  Pengurangan risiko HPAI di sektor 3 sebelum ada PVUK, lanjut Yani, sempat terhenti karena para pengusaha unggas yang didatangi merasa terganggu ketika petugas masuk ke kandang. Namun setelah ada program PVUK yang beranggotakan dokter hewan,  petugas bisa leluasa melakukan pengendalian HPAI dan masuk ke kandang.

"Sudah sejak lama masuk sektor 3 tapi sempat tehenti karena mereka merasa terganggu. Kemudian kita stop. Tapi karena kondisi kandang tidak sesuai spek teknis kemudian kita tetap komunikasi, kemudian dilakukan pertemuan rutin bulanan. Kemudian setelah ada program PVUK, kami bersyukur, kami jadi bisa masuk lagi ke kandang," tutur Yani.

Memang tidak mudah untuk mengubah perilaku pengusaha unggas di sektor tiga yang rata-rata "mengaku" berpengalaman beternak secara turun menurun. Meski belum menerapkan  bio security tiga zona, setidaknya para peternak diharapkan sudah melakukan hal sederhana misalnya mengganti alas kaki ketika masuk kandang dan tidak sembarangan orang boleh masuk.

National Technical Advisor-Pultry Veterinary Helath Programme FAO, Alfred Kompudu mengatakan tujuan FAO salah satunya  memang untuk mengubah perilaku peternak agar melakukan pencegahan penyebab AI. Petugas PVUK memberikan pemahaman kepada peternak dan memberikan saran-saran.

"Temen-teman PVUK memberikan pemahaman kepada peternak. Yang ingin kita sampaikan itu perubahan perilaku. Peternak kecil mungkin sudah banyak berubah, misal dulu bawa vaksin cuma pakai plastik kresek dan es batu, sekarang pakai coolbox, itu sudah luar biasa. Yg ingin kami lihat peternak yang melakukan perubahan besar dengan bio sekuriti 3 zona," terang Alferd.

Pendekatan melalui program pengendalian HPAI dinilai efektif dengan pertemuan-pertemuan berformat sharing bersama peternak. Hasilnya ternyata cukup signifikan, bahkan pada tahun 2015 ini hingga awal September belum ada laporan unggas teridentifikasi AI.

"Tahun 2012 ada 17 kasus, 2013 ada 14 kasus, tahun 2014 ada 12 kasus, 2015 belum ada laporan, semoga bisa seperti ini. Untuk jumlah unggas, tergantung jumlah populasi titik yang terkena. Untuk tahun 2014 ada 2.138 ekor mati," papar Yani.

Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Imas Yuyun menambahkan pembinaan utamanya di sektor 3 memang perlu dilakukan karena menyambut diberlakukannya MEA. Peternak lokal harus mampu bersaing secara kualitas dengan produk luar negeri.

"Kita lakukan pembinaan sektor 3 karena sambut MEA karena harus kualitas sama dengan luar negeri. Jadi kualitas harus sama dengan yang masuk dari luar negeri," tegasnya.

(alg/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads