Di Depan Mahasiswa Unisma, Kepala BNP2TKI Bicara Soal MEA

Di Depan Mahasiswa Unisma, Kepala BNP2TKI Bicara Soal MEA

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Selasa, 15 Sep 2015 16:02 WIB
Di Depan Mahasiswa Unisma, Kepala BNP2TKI Bicara Soal MEA
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Kepala BNP2TKI Nusron Wahid berbicara di acara orientasi mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma). Di hadapan para mahasiswa, politikus Golkar itu menuntut mahasiswa membayar utang ke negara. Maksudnya?

"Sadarkah Anda bahwa biaya kuliah yang anda bayar sesungguhnya tidak mencukupi. Manajemen universitas mengatasi defisit tersebut dengan memperoleh bantuan pemerintah  yang antara lain bersumber dari pajak dan sumbangan dari masyarakat seperti wakaf ataupun bentuk bantuannya lainnya," kata Nusron di depan 1.800 mahasiswa baru Unisma dalam siaran pers yang diterima, Selasa (15/9/2015).

Dalam acara itu hadir Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi, Dekan Fakultas Ekonomi Unisma Nur Diana SE MSi, serta civitas akademika lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anda semua harus membayar sekalian 'utang' itu kepada bangsa dan Negara," imbuh Nusron.

Nusron mengatakan para mahasiswa harus memiliki sekurang-kurangnya tiga hal pokok agar mampu membayar 'utang' kepada bangsa dan negara, serta supaya siap menghadapi realisasi Masyarakat Ekonomi Asean yang mulai berlaku akhir 2015. Ketiga hal pokok itu adalah peningkatan kapasitas diri, berperilaku tidak konsumtif dan melakukan gerakan meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Jadilah insan yang turut memecahkan masalah bangsa, bukan malah menjadi beban bangsa. Jangan mau terima Bantuan Langsung Tunai (BLT), Raskin atau membeli bensin yang murah, demi mengurangi beban negara. Jangan mau membeli barang-barang impor karena pada akhirnya turut berperan melemahkan nilai tukar rupiah. Jangan makan di restoran-restoran franchise asing sebab sebagian labanya dikirim ke luar negeri," kata Ketua GP Anshor ini.

Menghadapi MEA

Nusron juga bicara soal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di depan mahasiswa. Nusron mengatakan KTT ASEAN ke-12 di Cebu, Filiphina, menyepakati perubahan kawasan ASEAN menjadi wilayah yang bebas terhadap pergerakan barang, jasa, investasi, tenaga kerja dan aliran modal lainnya pada akhir 2015.

Pemberlakuan MEA memberi peluang sekaligus tantangan. Berkat tak adanya hambatan, ekspor berpeluang meningkat, namun impor pun bisa bertambah. Terbuka kesempatan bagi para mahasiswa bekerja di negara-negara anggota ASEAN lainnya, namun pada saat yang bersamaan, dokter-dokter Singapura, pengacara Malaysia, juga bisa bekerja di Indonesia.

"Mari kita hadapi MEA dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan memiliki kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik, kita akan menang dalam persaingan dengan negara anggota ASEAN lainnya," ulasnya.

"Sejarah menunjukkan keberhasilan suatu bangsa sangat tergantung kepada kaum intelektual terdidik. Perubahan di muka bumi sangat tergantung kepada peduli atau tidak peduli masyarakat terdidik itu. Indonesia merdeka awalnya disebabkan peranan elit terdidik yang menempuh pendidikan di Indonesia maupun Belanda. Kini, kalianlah penerusnya," pungkas caleg peraih suara tertinggi di Pemilu 2014 itu. (van/tor)


Berita Terkait